KUMPULAN CERPEN CINTA
KATA CINTA YANG KEDUA
Awal aku masuk kuliah selama beberapa hari menjalani penyiksaan yang
begitu pahit oleh senior yang kejam dan jahat. Dengan berkendaraan bus
yang penuh sesak, ku masuki bus itu dengan sedikit hati hati, ku duduk
di sebuah tempat dekat jalan, yang kurasa agar tidak terlalu sulit jika
aku turun nanti, ku duduk dengan manisnya, sambil melihat orang di
sekitarku. Rasanya ada yang aneh dengan gerombolan 6 orang yang duduk
paling belakang itu. Rupanya aku kenal salah satu dari mereka tapi aku
tidak tau namanya, ya.. teman satu jurusanku namun kita sama sekali
tidak bertegur sapa, mungkin karna aku terlalu pendiam, mungkin juga dia
tidak mengenaliku. Namun ada seseorang salah satu dari mereka yang
agaknya terlalu memperhatikanku, dan saat aku melihatnya ke belakang
untuk melihat keadaan, rupanya dia sedang melihatku , tatapan kami
terhenti di salah satu sudut. Karena dia yang terlebih dulu melihatku,
dia pula yang melempar senyum terlebih dulu kepadaku, tanpa canggung aku
pun membalas senyumnya.
Ku
buka kembali Diary lamaku saat aku pertama kali bertemu dengan Kevin.
Rasanya tak pernah terfikirkan olehku akan melewati masa sesulit ini
ketika telah mengenalnya. “hayooo ngelamunin Kevin ya?” tiba-tiba Adel datang ke kamar.
“apaan si lo, sok tau.”
“eh apaan tuh liat dong, lucu gitu bukunya, ada foto kamu sama Kevin lagi.” Sambil merebut buku yang di tangan Widy.
“eh jangan itu Diary gue” balik Widy merebutnya, tapi tak berhasil.
“ah biarin gue pengen tau.”
Akhirnya Widy menyerah membiarkan Adel membaca buku Diarynya itu. Setelah lama Adel membaca halaman pertama buku itu diapun berkata.
“jadi rupanya lo tuh suka pada pandangan pertama nih.”
“eh engga ya, dia dulu yang ngelempar senyum ke gue, terus minta nomer gue ke Raka, temen satu jurusan gue itu yang satu bus sama gue waktu itu. smsin gue, ngajak jalan, sampe deket kaya gini, dan tiba-tiba dia pacaran sama Nuna.” Menceritakannya dengan emosi, lalu Widy mengeluarkan air matanya.
“sabar ya wid, gue rasa Kevin tuh ga bermaksud nyakitin elo, dia kan ga tau kalo Noumi itu kakak lo.”
“dia tuh kakak tiri gue, dan kalo emang seorang kakak dia gak mungkin sejahat ngerebut orang yang gue suka.”
“tapi lo gak pernah bilangkan orang yang lo suka itu Kevin, mana dia tau kalo dia yang lo suka.”
“udahlah Del ga usah bahas dia lagi, mulai sekarang gue benci sama Kevin dan Noumi!”
Noumi, dialah yang sudah menghancurkan semuanya, aku terbiasa memanggilnya Nuna(sebutan kakak perempuan dalam bahasa Korea),dia adalah kakak tiri aku yang kuliah dan tinggal di Korea , dia tinggal disana bersama Paman Lian yang membuka usaha restaurant khas Korea, aku yang tidak suka dengan musim dingin hanya tinggal di Jakarta bersama Papah dan Mamah tiriku. Noumi ternyata teman sewaktu SMA Kevin, yang pernah disukai Kevin dulu tapi kenapa harus Noumi? dia orang yang terdekat denganku, dan kenapa aku harus tau sekarang, ketika aku sudah benar-benar menyayanginya.
Beberapa minggu lalu Kevin pernah menyatakan cinta padaku, tepatya saat aku pulang kuliah, tanpa ragu dia menyatakan kata-kata cinta itu dengan lancar, sampai aku seperti terhipnotis tak sadar melihat tingkah dan deretan kata-kata itu. Namun karna aku bingung dan ragu aku menjanjikannya akan menjawab pada saat malam minggu di Cafe tempat biasa kita makan bersama.
Memang waktu belum mengijinkan kita, pada saat itu banyaknya tugas yang datang mengahampiri membuat aku lupa akan hal itu. Berjam-jam ternyata dia menunggu di Cafe, dan aku memang benar-benar lupa. Seperti penyesalan yang amat mendalam, dia mengira aku tak datang menemuinya karna aku menolak cintanya, beberapa kali aku jelaskan aku lupa untuk datang ke Cafe itu, tapi Kevin hanya menjawab “lupakan saja Wid, anggap saja itu tak pernah terjadi.” dan aku sangat tau Kevin, sesekali ia dikecewakan, dia takan pernah memberikan kesempatan untuk orang yang pernah mengecewakannya. Dan aku menunggu dia menyatakan cinta itu lagi, karna aku takan menyia-nyiakannya untuk kedua kali, karna aku mencintainya. Tapi kemana dia, cinta itu tak pernah keluar dari mulutnya lagi sampai pada akhirnya dia menemukan Noumi, sahabatnya dulu yang pernah disukainya. Sampai pada akhirnya aku memutuskan, untuk merelakan semuanya. Bahwa Kevin kini telah menjadi milik Noumi.
Malam ini sengaja aku duduk ditaman rumah, malam inikan malam ulang tahunku tapi semuanya nampak sepi, Papah Mamah yang sedang berkunjung ke Korea menjenguk Paman Lian yang sedang sakit, tidak kunjung pulang sampai hari esok tiba. Headset yang tertempel ditelinga seperti melekat, aku menikmati alunan musik yang bertema galau, pas sekali dengan apa yang ku rasakan. Tiba-tiba Pemandangan yang tidak menyenangkan, oh Noumi dan Kevin, inikah kado terburuk yang pernah kudapatkan dihari ulangtahun ku besok, kemesraan yang tampaknya mereka pamerkan membuatku iri, harusnya aku yang sedang tertawa mesra bersama Kevin disana. Tak biasa mereka pulang semalam ini tepatnya jam 10 malam, pasti mereka habis makan di Cafe, nonton, semua hal yang mengasikan.
Saat mereka lewat didepanku, akupun sengaja menutup mata, agar tidak menambah beban pikiranku, dan diam-diam saat mataku terpejam, rasanya pipiku sudah basah terbanjiri air mata.
“kenapa malam-malam kamu masih diluar Wid?” tanya Kevin.
Rupanya alunan musik yang terdengar ditelinga Widy, membuatnya tidak mendengarkan ada suara apapun selain lagu lagu yang didengarnya.
“hei widy.” Sapa Kevin sambil menyentuh tangan Widy, agar Widy merasakan bahwa disana ada orang yang mengajaknya berbicara.
Mata Widypun terbuka dan dengan kagetnya, sampai gelas lemon tea didekatknya terjatuh.
“eh, eh Kevin.”
Entah apa yang harus aku lakukan pada saat itu, suara pecahan gelas membuatku makin panik dan aku memunguti pecahan-pecahan gelas itu. Sebenarnya jika situasi sedang normal aku tidak akan melakukan hal itu, aku akan mengusir Kevin jauh-jauh dan menyuruhnya pergi. Dengan tergesa-gesa membereskannya membuat beling pecahan gelas itu, melukai tanganku. Kevin hanya terdiam melihat tingkahku. Dan ketika ia tersadar iapun langsung membantuku, mengeluarkan sapu tangan, dan membalutkannya ke tanganku yang luka.
“kamu tuh kenapa si, ga biasanya banget?” tanya Kevin.
“habisnya kamu tuh dateng tiba-tiba, bukannya tadi kamu bersama Nuna masuk kedalam eh tiba-tiba kamu ada disini.”
“ya gapapa dong sekali-kali akukan pengen sama kamu.”
Kata-katanya membuat aku benar-benar kesal, kamipun duduk berdua diatas ayunan panjang itu. Diam sejenak tanpa ada yang berkata-kata.
“sebaiknya kamu panggil Nuna sanah, dan aku mau istirahat.”
Diam itu saat bersama Kevin itu, membuat kenyamananku terganggu, aku putuskan untuk kembali ke Kamar.
“eh Wid, disini aja. Noumi sedang mandi katanya dan kamu harus menemani aku.”
“kenapa begitu”
“karna akukan tamu, masa tamu dibiarkan sendiri, ayolah yah yah...” mintanya dengan manja.
“engga!” Widy lari menuju rumah, dan Kevinpun mengejarnya
“kenapa kamu jadi seperti ini si Wid? Kamu tidak seperti kamu yang dulu dan aku tidak suka.”
“dan kamu pikir aku suka kamu dekat dengan Nuna, lalu melupakan aku begitu saja?”
“apa wid, jadi kamu tidak suka aku dekat Noumi?”
“eh bukan itu maksud aku.” Widy berusaha mengelak.
“wid sekarang aku tau perasaan kamu, akhirnya kamu menjawab semua rasa penasaran yang aku rasakan selama ini.”
“maksudnya?”
“sebenarnya aku tidak pernah pacaran bersama Noumi, akupun tidak pernahkan bilang kalo aku pacaran sama Naomi bukan, tapi kamu sendiri yang menganggap semua itu.”jelas Kevin.
“ah sudahlah lepaskan, aku tidak mau lagi mendengar semua itu.”
Widypun lari ke dalam rumah, dan berhenti ketika melihat Noumi sedang membuat kue ulang tahun, ah pasti itu buat Kevin, hari ini kan dia juga ulang tahun. Pasti mereka bakalan ngerayain bareng diatas penderitaan gue.
Kevinpun ikut lari ke dalam rumah.
“Widy, kenapa kamu masuk ke dalam, harusnya kamukan menemani Kevin diluar.”
“ah urusi saja pacarmu itu sendiri.”
Ketika Widy mencoba berlari lagi menuju kamar, langkahnya terhenti karna salah satu tangganya berhasil dipegang erat oleh Kevin.
“jangan pergi lagi Widy.”
Sontak Widypun kaget dan mencoba melepaskan pegangan itu, saat berhasil terlepas widypun berkata.
“apa si maunya kalian itu, aku hanya ingin tenang silahkan kalian bercinta sesuka kalian tapi jangan ganggu aku lagi.”
“Widy apa maksud kamu?”
“Nuna pacaran sama Kevinkan, dan Nuna tau dia itu orang yang sering Widy ceritakan kepada Nuna saat kita sedang curhat bersama melalui e-mail.”
Noumi hanya tersenyum lalu mengatkan “Happy Birthday Widy.”
Nuna sambil berteriak, aku bingung seperti konyol sekali, itukan kue untuk merayakan hari ulang tahun Kevin.
“Widy maafkan aku, ini semua rencana aku, aku ingin tau sekali lagi perasaan kamu, dan aku rasa ini satu-satunya cara agar aku tau perasaan kamu, kamu cemburukan wid aku bersama Noumi, dan itu artinya kamu juga suka kan sama aku?”
Widy seolah tak percaya akan hal itu, air matanya mengalir ke lekuk pipinya.
“aku cinta sama kamu widy, sekali lagi aku ungkapkan itu, dan aku mau kamu menjawabnya sekarang, apapun jawaban kamu aku siap, tak perlu menunggu lain waktu, maukah jadi pacar aku?”
Tanpa berkata Widy langsung memeluk Kevin.
“jangan lakukan ini lagi, aku juga cinta kamu dan kamu harus tau itu.”
Pelukan yang berlinang air mata, mengakhiri sebuah kebahagiaan.
“Nuna maafkan aku yang selama ini sudah membenci Nuna.”
“tidak apa-apa, memang harusnya begitu kalo memang Nuna melakukan itu.”
Malam itu malam yang indah, aku merayakan ulang tahunku bersama Kekasihku dan Nuna, orang yang sangat aku sayang.
TERNYATA KAMU
Oleh: Mentari Senja - Hari ini aku dan Shinta akan menjemputmu di
Bandara, sepuluh tahun sudah kita tak berjumpa. Setelah keluargamu
pindah, aku dan Shinta hanya bisa merindukanmu. Sepuluh tahun kami
jalani hidup berdua tanpa dirimu, tanpa kebersamaan dan tanpa
kegilaanmu. Kami sangat merindukanmu, terkhusus untukku.
“duh lama banget ya ri...mana sih Radit katanya dateng jam 10.00. ini
dah jam 10.00 lewat tapi belum nongol juga tuh batang hidungnya.”shinta
melirik jam warna pink ditangannya sambil terus mencari-cari sosok
seorang Radit. Terlihat kegelisahan diraut wajah cantiknya.“ sabar lah Shin, bentar lagi juga nyampe. Mungkin emang agak telat paling pesawatnya. Ya udah kita tunggu aja disini.”aku mencoba menenangkan Shinta, walau aku sendiri juga agak gelisah.
“eh...ri kira-kira Radit curiga ga ya. Kalau selama ini yang sering bales e-mail dia bukan aku. Apa dia masih suka sama aku.”shinta jadi gelisah sendiri, dia takut Radit kecewa kalau selama ini bukan Shinta yang ngbales semua e-mail dari Radit.
“udahlah tenang Shin, Radit ga bakal tau ko. Lagian kan walaupun aku yang bales tuh e-mail radit, tetep aja aku pake nama kamu. Jadi kamu tenang aja deh. Dan dari semua e-mail yang dia kirim, aku yakin dia masih suka sama kamu,”shinta agak sedikit tenang setelah mendengar penjelasanku.
“thanks ya riri, kamu emang sahabat yang baik. Kamu tau sendiri kan aku paling males kalo suruh ngebales e-mail. Aku ga suka diem dikamar Cuma buat mantengin laptop. Mendingan shopping, hehehehe. Tapi untunglah ada kamu, jadi aku selalu tau keadaan Radit. Dan yang paling penting aku tau kalo Radit masih suka sama aku.”shinta senyum-senyum sendiri membayangkan Radit.
Aku cuma tersenyum melihat sahabatku ini, walaupun ada sedikit rasa sedih. Karena selama ini aku juga memendam perasaan pada Radit. Selama sepuluh tahun ini aku dan Radit memang masih sering berkomunikasi, tapi komunikasi ini hanya kepura-puraan. Radit menyangka kalau yang ngebales semua e-mailnya adalah Shinta, perempuan yang dari dulu dia kagumi.
Setelah tiga puluh menit lamanya kami menunggu Radit, akhirnya pesawat yang ditumpangi Radit datang juga. Perasaanku mulai berdebar-debar, membayangkan bagaimana Radit sekarang. Apakah dia akan mengenaliku, taukah dia kalau selama ini aku lah yang selalu menemani malam-malamnya lewat dunia maya. Apakah Radit juga merasakan apa yang aku rasa. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaanku tentang Radit. Semoga dia tidak berubah.
“jantungku deg-degan ri, kira-kira sekarang Radit seperti apa ya. Aku ga sabar neh. Duh mana ya Radit.”dengan mengangkat papan nama bertuliskan Radit, Shinta mencoba mencari sang pujaan hati.
“shin, mungkin itu dia Radit. Lihat lelaki itu, dia datang kearah kita, pasti itu Radit.”aku menunjuk kearah lelaki tinggi memakai jaket jeans biru.
“sepertinya iya, wah keren juga ya Radit sekarang. Aku jadi makin suka deh”
Lelaki berjaket jeans itu semakin mendekat, dia melambaikan tangannya menandakan bahwa memang benar dia adalah Radit. Akhirnya ketemu juga dengan Radit, Radit kini sudah menjadi sosok lelaki dewasa.
“hallo princess, apa kabarmu...”Radit mendekatkan diri pada Shinta, menyapa Shinta dengan sebutan yang biasa dia ucapkan padaku saat didunia maya.
Princess ??so sweet, Radit romantis sekali padahal baru saja ketemu Shinta hanya berdiam diri, dalam hati shinta berkata-kata siapa yang Radit sebut dengan Princess, tapi itu ga terlalu penting bagi Shinta. Shinta tak memperdulikan Radit akan memanggilnya apa. Yang dia rasakan hanya senang karena akhirnya bisa bertemu dengan Radit.
“hallo Princess, kenapa nglamun aja. Terpesona ya ngliat aku yang ganteng. Hahahahaha.” kata Radit karena melihat Shinta yang bengong
“hey siapa juga yang terpesona, aku hanya ga habis fikir aja bisa ketemu lagi sama cowok jelek kaya kamu,hehehehe.”shinta dan Radit terlihat semakin akrab. Kulihat mereka berdua sangat cocok, apalagi mereka berdua saling suka.
Aku hanya bisa berdiam diri melihat keakraban antara Radit dan Shinta. Ternyata Radit tak mengenaliku, dia masih mengira bahwa Shintalah yang menjadi teman dunia mayanya. Sedikit rasa kecewa terpendam dihati, karena apa yang kuharapkan ternyata tak sesuai hati.
“ehemm... udah dulu dong kangen-kangenannya, sampe lupa ada orang disampingnya.” aku mencoba mencairkan suasana.
“hai nona manis, maaf aku lupa. Apa kabarmu sekarang ? apa kegiatanmu, jangan kaya Shinta ya yang sukanya ngenet sampe malem.”Radit melirik Shinta. Menggoda Shinta dengan lirikannya.
“kabarku baik. aku juga suka ngenet ko Dit, sama kaya Shinta.”jawabku sambil ku lirik juga Shinta
“wah ternyata kamu sama Shinta punya hobby yang sama ya, baguslah kalau gitu. Kita semua jadi kompak. heheheh, Eh ngomong-ngomong kamu punya e-mail ga?”tanya Radit kepadaku
“aku punya, kapan – kapan aku kasih tau kamu. Oke sekarang kita pulang yuk ga enak kelamaan disini bisa jamuran kita.hehehehe.” aku dan Shinta saling berpandanngan, aku tau Shinta ingin berbicara kalau jangan sampai Radit tau yang sebenarnya.
Akhirnya kami bertiga pulang, menuju kediaman Radit yang kebetulan tak jauh dari rumahku dan Shinta. Kami bertiga tinggal dalam satu komplek yang sama.
****************
Pagi ini sungguh cerah, udara pagi yang sejuk ditemani hangatnya sinar
mentari pagi. Daun-daun dengan tetesan embun menyapa rerumputan yang
basah karena tetesan embun. Burung camar berkicauan menyanyikan kidung
indah tentang pagi. Dari jendela kamarku dilantai dua, aku merasakan
sejuknya angin pagi. Dan tanpa kusadari tenyata Radit telah berada
dibawah.“woi nona manis, lari pagi yuk. Ajak Shinta juga ya.” teriak Radit dari bawah, ternyata Radit sudah siap untuk berolahraga pagi.
“hai....sudah lama disitu, oke deh bentar lagi aku keluar. Aku call shinta dulu ya.” jawabku
“shin, cepet bangun Radit ngajak jogging neh. Oke cepetan bangun, aku dan Radit nunggu kamu didepan rumah.”kututup teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Shinta, segera kubersiap untuk jogging.
“sudah call Shinta,” tanya Radit setelah melihatku keluar dari pintu.
“yapz, udah. Kita langsung tunggu didepan rumahnya. Ayo berangkat.” ajaku pada Radit.
“oke. Ayo.”
Jarak rumahku dan Shinta tak begitu jauh, jadi tak butuh waktu lama buatku dan Radit sampai dirumah Shinta. Pagi ini Shinta terlihat begitu cantik. T-shirt pink dipadu dengan celana Panjang warna putih terkesan machting dengan kulit Shinta yang putih. Dan hal ini membuat Radit semakin terpesona.
“hello, my princess, you are beautiful.” Radit menyapa Shinta dengan kata-kata romantis, ini membuatku sedikit sedih. Karena bukan aku yang dia sapa, melainkan Shinta yang tak tau apa-apa.
“hallo juga cowok jelek, hehehehe.” Shinta menjawab sekenanya.
“ayo kita berangkat.” ajaku
“Oke.” radit dan Shinta masih saling berpandangan.
Setelah lima belas menit jogging akhirnya kita semua memutuskan untuk beristirahat sejenak di taman. Disebuah bangku panjang bercat putih, dipayungi pohon yang rindang sangat tepat untuk tempat beristirahat. Dikanan kiri terdapat beberapa pedagang makanan dan minuman, tempat ini memang biasa untuk orang-orang lari pagi jadi wajar kalau banyak juga pedagang yang menyediakan makanan ataupun minuman.
Tiga botol teh dingin, serta tiga mangkok bubur ayam menjadi santapan pagi kita setelah lelah berolahraga. Suasana kali ini sungguh menyenangkan. Terlihat ada kumpulan anak-anak yang sedang berlari-lari kecil dengan suara tawanya yang riang, hal ini mengingatkanku tentang sesuatu. Terbayang waktu dulu saat kami semua bersama. Masa-masa kecil yang selalu kami lewati dengan berbagai canda dan tawa. Radit yang super iseng, Shinta dengan kemanjaan dan kecentilannya, sedang aku yang pendiam. Walaupun dengan berbeda karakter tapi kami semua tetap bisa bersatu. Sampai saat inipun kami bertiga masih akrab.
Fikiranku pun melayang saat kuingat kali pertama Radit membuatku kagum padanya, Radit datang membelaku saat aku dihadang oleh anak – anak lelaki yang bandel disekolah seberang. Radit mencoba melindungiku, dia berusaha agar aku tidak terluka. Ketika itu Radit berkelahi dengan anak-anak itu, walaupun radit terluka juga tapi Radit berhasil mengusir anak-anak bendel itu. Dan saat itu aku merasakan kagum pada seorang Radit, bagiku dia adalah dewa penolong, dia juga teman penghiburku saat aku merasa sedih. Hingga saat ini kekaguman itu masih terjaga.
“hei... nona... ngapain nglamun.”sapaan Radit menyadarkanku dari lamunan. Radit memang biasa memanggilku dengan sebutan nona. Itu sebutan saat masih kecil.
“ohh...ga apa-apa ko. Cuma lagi menikmati alam, hehehe.” jawabku seraya memandang sekitar
“balik yuk, cape neh.” ajak Shinta
“oke Princess,” jawab Radit. Sekali lagi aku dan Shinta hanya saling berpandangan.
*********
“eh ri, kira-kira Radit masih percaya ga ya kalau aku yang sering balez e-mail dia dulu.” tanya shinta padaku“emangnya kenapa, yang aku liat sih, kayanya dia masih percaya deh.” aku melihat kearah Shinta
“iya ri, sekarang aku ga yakin kalo Radit masih percaya, soalnya sering banget kalo dia ngobrol sama aku dan kebanyakan obrolannya itu ga nyambung. Dia sering cerita tentang dunia maya, tentang buku love story, tentang bakso yang katanya makanan kesukaanku. Padahal kamu tau sendiri kan ri kalo aku ga suka bakso. Apalagi tentang lovestory. Aku jadi bingung harus jawab apa sama Radit.”shinta telihat bingung, dia terus mengaduk-aduk minumannya dengan sedotan. Sampai mie ayam kesukaanya tidak sempat dia makan.
“udah lah shin, aku yakin dia masih percaya.”jawabku mencoba menenangkan. Aku hanya bisa diam, memikirkan Radit. Ternyata Radit masih hafal tentang kebiasaanku, tentang love story, tentang bakso, itu semua memang tentangku. Kabiasaanku berbalas e-mail dengan Radit membawa ketidaksengajaanku untuk mengungkapkan semua kebiasaan dan kesukaanku. Aku tak sadar bahwa kebiasaanku dan Shinta sungguh jauh berbeda. Yang ku tau saat itu hanya rasa nyaman saat bisa berbagi cerita dengan Radit, walaupun hanya lewat dunia maya.
Suasana kampus masih ramai, banyak mahasiswa berlalu lalang. Dari mahasiswa yang masih punya jam kuliah sampai yang hanya Cuma ingin menikmati suasana taman dikampus. kebetulan aku dan shinta sudah tak ada jam kuliah. Kami menghabiskan waktu dikantin kampus. Kami berdua hanyut dalam lamunan masing-masing, walaupun tertuju pada satu khayalan, yaitu Radit.
“Ri, aku sudah putuskan untuk menceritakan yang sebenarnya sama Radit. Aku ga mau terus – terusan bohong. Aku juga ga mau terus berpura-pura tau tentang semua obrolannya. Aku ingin mencintai Radit dengan diriku sendiri, bukan apa yang Radit ceritakan. Gimana menurutmu ri.” tiba-tiba saja Shinta berbicara padaku,
“kalau menurutku, jangan dulu shin. Ini bukan waktu yang tepat. Biarlah dia tau dengan sendirinya. Lagian kalau dia emang sayang sama kamu, pasti dia bisa menerima kamu dengan apa adanya. Ya udahlah shin jangan terlalu difikirkan.”
“gitu ya ri, hmmm ya udahlah mungkin Cuma perasaanku aja. Thanks ya ri, kamu baik banget. Kamu juga selalu membantuku. Thanks sob.”Shinta memelukku erat, ada kelegaan yang kulihat.
“iya shin, sama-sama. Balik yuk.”
“hmm oke,”
*********
“hei nona, lagi ngapain disini.”Radit menghampiriku saat aku berada ditaman sendiri. “hei juga, lagi duduk-duduk aja neh, sambil baca buku.”jawabku sambil mempersilahkan Radit duduk.
“wah hoby baca juga ya kamu, lagi baca buku apa, coba aku liat.”
“love story, novel kesukaanku, ceritanya begitu romantis aku suka.”aku menyodorkan buku novelnya kepada Radit.
“Love Story???ko bisa kebetulan ya, aneh....”jawab Radit sedikit bingung sambil terus melihat buku novel itu
“Aneh kenapa.?”tanyaku sedikit ragu
“ya aneh, aku juga suka banget sama novel itu. Shinta juga suka, dia sering ngabahas novel ini di e-mail tapi kenapa ya saat aku tanya langsung sama dia kemaren dia seolah ga pernah tau tentang love story.dan juga saat aku panggil dia princess dia ga ngebales manggil aku pangeran. Aneh kan.”Radit mulai curiga dengan Shinta.
Aku langsung buru-buru mengambil novel itu dari Radit, aku ga mau Radit tau keadaan yang sebenarnya. Sambil bersiap pamit pulang aku berbicara.
“mungkin Shinta ingin ngetes kamu, apa dia masih ingat atau ga sama kebiasaannya.” jawabku sembari meninggalkan Radit. Saat itu kulihat Radit bingung. Sebenarnya Radit ingin bertanya banyak tentang Shinta padaku tapi aku keburu pergi.
Radit, mungkinkah kamu tau bahwa itu semua adalah aku. Akulah yang kau kira Shinta, akulah yang selalu berbagi cerita tentang lovestory. aKu lah yang memanggilmu pangeran, dan aku lah princessmu. Semua itu aku yang lakukan. Maafkan aku Radit, bukan maksudku membohongimu, ini semua demi Shinta. Aku tau kamu cinta Shinta, begitu juga Shinta. Mana mungkin aku harus menghancurkan hubungan kalian. Lebih baik aku yang sakit.Semenjak kejadian ditaman aku sedikit menghindari Radit, aku takut Radit bertanya macam-macam lagi. Jadi sebisa mungkin kuhindari suasana berdua dengan Radit. Kecuali saat ada Shinta, seolah memang tak terjadi apa-apa.
**********
Kunyanyikan lagu kesukaanku saat kusendiri ditaman, lagu ini sangat berarti karena lgu ini mengingatkanku pada seseorang yang sangat ku sayang siapa lagi kalau bukan Radit. Aku dan radit sangat kenal betul dengan lagu ini, karena sangat sering aku memutar lagu ini ketika dunia maya menjadi jembatan untuk aku berbagi cerita, begitu juga dengan Radit. Lagu ini adalah lagu kita bersama. Tanpa terasa airmataku menetes, ada perasaan sedih saat harus aku tau kenyataan bahwa Radit tidak mengenaliku. Dia masih saja mengira bahwa Shinta lah yang selama ini bersamanya di tiap malam.Kau adalah darahkuKau dalah jantungkuKau adalah hidupkuLengkapi diriku, oh sayangku kau begitu sempurna...........
“Ri...aku sudah tau semuanya.”suara Radit tiba-tiba mengagetkanku.
Ternyata Radit sudah dari tadi ada dibelakangku. Aku bingung apa yang Radit katakan barusan, apa yang dia tau. Atau jangan-jangan.....tapi tidak mungkin, dari mana dia tau. Shinta ???? batinku mulai bertanya-tanya.
“hei dit, sudah lama kamu disini?”tanyaku agak sedikit gugup
“aku tau ri, aku sudah tau. Lebih baik kamu jujur padaku.”radit mencoba mendesakku
“maksud kamu apa dit, aku ga ngerti deh. Apa yang kamu tau.”jawabku seolah tidak tau apa-apa. Persaaanku semakin gugup dan gelisah, aku takut Radit memang sudah mengetahui semuanya. Aku takut mengecewakan Shinta.
“aku tau bukan Shinta yang ngebales semua e-mailku, bukan shinta yang selama ini menemaniku. Tapi itu semua kamu ri. Kamu Mentari az zahra, yang selalu ngebales e-mailku. iya kan ri, jawablah.” Radit mendesakku.
Aku hanya terdiam, aku tak tau harus berbicara apa. Ternyata radit sudah tau semua. Tapi dari mana dia tau, bukankah Shinta sudah tidak berniat lagi untuk menceritakan hal ini.
“dari mana kamu menganggap kalau semua ini aku yang lakukan,.” kataku mencoba menyangkal
“semua bukti udah jelas ri, love story, dunia maya, bakso kesukaanmu, dan lagu tadi. Apa itu ga cukup jelas buat aku tau semuanya.” Radit terlihat kecewa.
“maaf dit, bukan maksudku membohongimu, ini semua karena Shinta. Shinta yang menyuruhku melakukan semua ini. Awalnya aku berniat untuk menghentikannya, tapi ternyata aku ga bisa, karena aku merasa nyaman saat aku bisa berbagi denganmu.” jawabku dengan suara parau, airmataku menetes.”maaf dit, bukan maksudku menghancurkan hubungan kalian, anggap saja ini semua tak pernah terjadi. Kembalilah pada shinta seolah memang dia yang selama ini kamu kenal bukan aku.”
“kenapa kamu ga mau jujur dari awal kita ketemu ri, aku kecewa sama kamu dan Shinta.”
“saat itu aku berniat untuk jujur, tapi waktu pertama kita ketemu kamu sudah lebih dulu mengenali Shinta dengan “princessmu” itu. Bukan aku yang kamu kenal. Sejak saat itu ku urungkan niatku.” kutatap wajah Radit sekilas lalu balik berpaling memandang bunga mawar yang tumbuh indah disamping taman.
“maafkan aku ri, aku ternyata tidak mengenalimu, aku ga memahamimu saat itu. Tapi ri, sampai kapanpun aku masih nyaman dengan princessku itu dan itu kamu, bukan Shinta.” Radit menggenggam tanganku, menatapku tajam.
“maksud kamu..??? bukankah kamu cinta sama Shinta?”tanyaku heran pada Radit
“aku memang suka sama Shinta, tetapi aku sadar bahwa rasa sukaku dengan shinta hanya sekedar rasa suka semata. Ternyata yang aku cintai bukan shinta, tapi princess, princess yang selalu menemaniku, princess dengan love storynya, dan itu kamu. Saat aku bersamamu aku merasa nyaman, seolah aku sedang berbicara dengan princess. Dan sekarang aku tau bahwa memang benar apa yang kurasakan, kamu adalah princessku. Aku mencintaimu ri.” kata Radit
“tapi dit, bagaimana dengan Shinta, mana mungkin aku harus menghancurkan hati Shinta. aku merasa tidak enak hati apabila Shinta tau semua ini.”kulepaskan genggaman tangan ku dari tangan Radit
“aku tau ri, tapi aku juga ga mau terus-terusan membohongi shinta. Jujur selama ini aku kurang nyaman saat bersamanya. Banyak ketidakcocokan yang aku rasakan. Tidak seperti saat bersamamu.” terang Radit.
Aku begitu bingung, dilema rasanya. Disatu sisi aku merasa bahagia karena Radit juga ternyata mencintaiku tapi disisi lain rasa bersalah kepada shinta bersarang. Bagaimana perasaan shinta saat dia harus tau semua ini. Apakah harus kurelakan Radit untuk Shinta, atau kuterima cinta Radit ini. Semua ini terasa ga adil, aku ga mau hanya karena masalah cinta persahabatan ini hancur.
“terimalah cinta Radit, ri..... jangan kecewakan dia. Aku tau dia cinta kamu.” suara Shinta tiba-tiba mengagetkan kami berdua. Ternyata shinta mendengar pembicaraan kami dari belakang.
“maaf Shin, bukan maksudku kaya gini.” kataku meyakinkan Shinta. Kuhapus airmataku dan kujauhi Radit.
“tenang Shin, aku ga kan marah ko sama kamu. Justru aku bahagia karena akhirnya semua ini bisa terjawab dengan sendirinya. Aku tak perlu lagi berbicara yang sebenarnya kepada radit. Dan tentang perasaanku sama Radit, sama halnya seperti Radit ternyata aku hanya mengagumi Radit. Tapi tak bisa untuk menyelaminya. Kami berdua ga cocok. Terlalu banyak perbedaan yang ada pada kita, dan sekarang aku relakan Radit menjadi milikmu karena aku tau kamulah yang terbaik buat Radit.” Shinta tersenyum dan menghampiriku. Shinta memelukku menyatakkan kebahagiaannya.
“makasih Shin, aku ga tau harus ngomong apa sama kamu.” aku merasa bahagia dengan penuturan Shinta, ternyata shinta ga marah. Dan semuanya jelas sudah.
“Mentari Az Zahra....maukah kamu menjadi pacarku...?” tiba-tiba radit bersimpuh didepanku dengan memberikan bunga mawar merah.
Dengan hati yang berbunga-bunga serta senyum yang terus mengembang dari bibirku. Ku jawab pertanyaan Radit itu.
“Radit Bagas Pramandha, aku bersedia menjadi pacarmu.” ku ambil mawar merah yang dipegang Radit sebagai tanda penerimaan.
“terima kasih princess...” Radit langsung memelukku
“sama-sama pangeran.”senyumku berkembang
Shinta yang melihat kami hanya tersenyum dan menggoda kami.
“ehem udah dulu dong berpelukannya, jadi iri neh. Hehehehe,”shinta menggoda kami.
Ternyata persahabatan ini masih terus berjalan, walau kini aku dan Radit resmi berpacaran tapi hal ini ga mengubah kebersamaan kami. Aku, Radit dan Shinta pun berpelukan. Kami habiskan waktu malam ini bertiga, memandang bintang dilangit yang bersinar indah.
Akhirnya love story ini berakhir indah. Sang pangeran kini telah menemukan princess. Tak ada lagi keraguan di hati sang pangeran. Dunia ini seakan berbunga-bunga, keindahan menghampiriku karena cinta yang kupendam kini tlah terpaut sempurna. Dan ternyata kamu........... I LOVE U RADIT..........................
Cerpen Cinta: MENCOBA TINGGALKAN BAYANGMU
<p>Your browser does not support iframes.</p>
Mencoba Tinggalkan Bayangmu
Oleh: Fatkuryati
Malam itu adalah malam pergantian tahun, atau yang lebih dikenal dengan istilah tahun baru,, euforia cantiknya kembang api mulai terasa di menit-menit pergantian tahun. Tidak banyak yang aku bisa lakukan di malam itu. Seperti putri di negri dongeng yang terkurung dalam khayalan-khayalan indah. Untuk ikut bernostalgia di malam tahun baru bersama teman-teman semasa SMA pun aku tak dapat izin dari sang bunda. Untuk hal seperti ini mamah selalu punya dua alasan. Alasan pertama, aku masih selalu di anggap anak kecil.
“nah lhoooo,,, aku kan udah umur 20 tahun mah, semester 5 lhoo aku, sekitar dua tahun lagi insyaallah aku lulus kuliah, gumamku dalam hati”.
Alasan kedua, suasana malam di kota sangat tidak baik, pergaulan di sana bahkan tidak pernah mengenal aturan.
“Hmmp,, ya ampuunn ini kan masih kota Serang mah bukan Jakarta,, toh aku juga bukan keluyuran sendiri yang gg jelas, tapi sama temen-temen yang sebagian besar udah mamah kenal dengan sangat baik, jawabku pelan”.
“iyah mamah tahu, tapi mamah yakin kamu paham betul makna dari alasan-alasan mamah, jawab mamah dengan bijak”.
Aku tidak bisa mendesak mamah untuk memberikan izin, aku takut mamah akan sedih bila ada bantahan di tengah perhatiannya, aku tahu semua kekhawatirannya semata-mata karena ingin melindungi dan menjagaku. Sepeninggalnya ayah beberapa tahun silam, mamah memang berubah jadi over protektif, untuk sebuah keselamatan anak-anaknya beliau lebih rela di hujat banyak orang daripada akan ada apa-apa nanti. Di rumah memang tak ada lelaki dewasa yang bisa benar-benar melindungiku, kedua kakak priaku telah menikah dan tinggal bersama keluarga kecilnya masing-masing, di rumah hanya ada aku, mamah dan kakak wanitaku dengan perbedaan usia 3 tahun. Jadi wajar saja bila mamah merasa memiliki tanggungjawab yang sangat lebih. jika terjadi apa-apa dengan putrinya, ia akan merasa sangat berdosa. Oleh karenanya, sebelum hal itu terjadi, beliau lebih memilih untuk menjagaku dengan caranya.
Di tengan perbincangan itu,, mamah memetikkan ibu jari dan jari tengahnya, pertanda memberikan ide.
“hmmmp,, untuk menghabiskan malam tahun baru, gimana kalo kamu ikut acara mamah” usul mamah.
“Acara apa mah?" tanyaku.
“kamu ikut mamah pengajian di pendopo kantor Bupati, Serang.. gimana??” tanya mamah.
Dengan spontan aku mengangkat sebelah alisku, “hmmp, ya udah deh aku mau, daripada di rumah, pastinya nanti aku akan benar-benar jadi gadis di negri dongeng yang merindukan dunia luar,” jawabku dengan ekspresi seadanya.
“Nahh gitu dooong, ini baru namanya anak mamah,” ucap mamah sambil mencium keningku.
Dalam perjalanan menuju kantor bupati, mataku terasa disuguhkan dengan pemandangan indah tahun baru. Banyak sekali penjual dadakan yang mencoba peruntungannya di malam ini,, dengan mencoba berjualan pernak-pernik dan makanan khas tahun baru. Para penjual terompet, petasan, kembang api, dan balon berjejer menawarkan barang dagangannya. Bahkan karena maraknya penjual, para konsumen terlihat dibuat bingung untuk membelinya. Asap jagung bakar pun seolah menggoda para penikmat tahun baru untuk sekedar mencicipinya. Dan yang tak kalah menarik,, ada pasar malam di Alun-alun kota Serang, terlihat sesak, orang-orang mencoba menghibur dirinya dengan sekedar berbelanja, menikmati wahana permainan atau makan bersama dengan sang kekasih hati. “Oohh tidak, sepertinya malam ini memang tak ada pangeran menjemputkuku, huufftt jadi merasa sedikit cemburu dengan mereka, ucapku lirih sambil memonyongkan bibir”.
“tapi aku tetap bersyukur masih diberi kesempatan untuk bisa melihat pemandangan seelok ini,, semoga nikmat sehat-Mu yang tak terkira banyaknya ini, selalu menjadikanku untuk tetap bersyukur, ucapku dalam hati dengan mimik takjub”.
Dan ternyata di pendopo kantor bupati pun tak kalah sesak,, para jamaah berlomba-lomba untuk menempati posisi terdepan, katanya akan ada penyanyi lokal Banten yang pernah melanglang buana di stasiun TV swasta, presenter yang cukup terkenal di acara dakwah, juga ustadz yang cukup membumi di Banten dan hiburan lainnya yang tak kalah menarik.
Anehnya,, di tengah acara ini berlangsung,, tiba-tiba aku teringat sebagian kenangan masa laluku.. Aku seperti orang dengan raga yang tertinggal di pendopo, sementara pikiran dan nyawaku berkunjung menjelajah kembali ke masa lalu.
Dia,, pria itu... pria yang baru 2 tahun lalu ku kenal. Tampan, baik dan dewasa,, Ia adalah mantan kekasihku. 100 hari bersama,, ternyata cukup untuk membuatnya berkarat dalam ingatanku . Aku tak pernah tahu, kenapa hingga kini ia masih cukup berarti untuk hidupku. Kami sama-sama mengakui bahwa kami masih saling merindukan satu sama lain. Ketemu, jalan dan makan bareng adalah hal yang biasa kami lakukan untuk sekedar mengobati rindu itu.
Kadang ia masih suka mengirimiku pesan singkat yang manis,, hingga aku merasa aku adalah wanita terbahagia di dunia. Ini adalah salah satu pesan singkatnya.
“tak apa, kalau kamu masih malu untuk bilang sayang kembali, tapi yang penting hatimu masih tersimpan indah dalam hatiku”
Heiii pria yang menjadi mantan kekasihku,, tahukah kamu,, aku malah seperti wanita gila ketika membaca pesan singkatmu itu, loncat-loncat bahagia layaknya anak kecil yang mendapatkan hadiah balon, dan senyum-senyum sendiri seperti penghuni RSJ yang melarikan diri. Dan tahukah kamu,, Itu adalah pertanda bahagianya aku ketika ku tahu kau masih memiliki rasa yang sama.
Jujur,,, hingga kini aku masih menyayangimu, aku tak pernah mampu untuk menggantikan namamu dengan nama yang lain. Bahkan aku lebih memilih untuk menolak cinta 5 pria lain, daripada menghapus namamu. Aku tahu 5 pria itu kecewa karenaku, tapi aku tak dapat membohongi perasaanku bahwa kamu masih cukup berarti untuk hidupku.
Jika kamu izinkan,, rasanya aku ingin kembali menjadi satu-satunya wanitamu.. malam ini aku bukan seperti jamaah yang khusu mendengarkan tausiyah di tempat pengajian.. tapi aku seperti menjadi tokoh utama di sinetron Lorong Waktu, acara ramadhan semasa aku SMP. Di lorong waktu ini aku seolah dikirimkanku ke cerita cinta masa lalu.. Ya benar kamu memang masa laluku,, tapi aku ingin kamu menjadi teman masa depanku,, bersama dalam sisa hidupku sampai Tuhan akan memanggil kita nanti.
Aku cukup bahagia dengan semua itu,, tapi entah aku merasa kini kamu berbeda.. kamu tak lagi bersikap semanis beberapa waktu yang lalu.. Tak ada lagi kata rayuan,, tak ada lagi kalimat gombalan dan tak ada lagi ucapan manis bahwa kamu masih menyayangiku sebagai mantan kekasihmu. Pikiranku terbang hingga ke awang mencoba menerka apa yang sedang terjadi denganmu,, banyak terkaan yang bisa menggalaui hatiku malam itu.. Dari mulai, sepertinya kamu sedang menyukai wanita lain,, mencoba menjadikanku hanya cinta masa lalu,, kamu tidak lagi menyayangiku,, dan yang paling bisa buatku sedikit tenang adalah semoga kamu memang hanya sedang sibuk menyelesaikan tugas akhirmu (skripsi), bukan karena kau terjebak cinta dengan wanita lain.
Entahlah,, euforia tahun baru itu tak lantas mebuat hatiku riang.. Ada kegalauan yang buatku merasa tak nyaman,, di tengah ramainya pendopo Serang,, aku malah berpikir untuk mengirimimu puisi ungkapan hati via sms,, Ini adalah puisi yang ku kirimkan di tengah kegalauan yang menghimpit hatiku,, sebenarnya dengan puisi ini aku mengharapkan kamu membalasnya dengan kata yang sama indahnya dan tentunya bisa buat hatiku tak segalau ini.
Ting-ting-ting (tanda pesan masuk),, itu pertanda bahwa sms yang ku kirim telah sampai ke ponselnya dan mungkin sedang dibaca.
“Allhamdulillah puisiku telah sampai ke ponselnya,, semoga akan ada balasan yang nantinya tak membuat ku kecewa,, ucapku dalam hati”.
Bermenit-menit ku tunggu,, dan sekarang menit tak lagi sebagai menit,, aku menunggunya hingga berjam-jam.
“huuuuffffttthh,,, sepertinya memang benar aku tak lagi berarti buatmu,, mungkin memang kamu sedang terjebak dengan cinta yang lain,, ucapku lirih mencoba menerima kenyataan”.
Aku berusaha menguatkan diriku sendiri atas rasa kecewa yang kini tak lagi klise.
”yahhhh,,, sepertinya aku memang harus benar-benar melupakanmu,, melempar bayangnya jauh-jauh hingga langit ke tujuh,, ucapku lirih seolah tertusuk sembilu”.
Aku memang tak tahu,, adam dari sisi mana yang akan Tuhan pilihkan untukku..
Seperti apa,, dan bagaimana ia,, tak ada yang tahu untuk masa depan.. Mungkin benar kau memang hanya ada di masa laluku.. Jika memang Tuhan tak takdirkan kita bersama, setidaknya aku pernah melewati 100 hari bahagia bersamamu dan jika Tuhan akan menghapusmu dari ingatanku,, itu karena Tuhan akan menggantikanmu dengan adam yang lebih baik..
Ikrarku,, akan ku coba tuk tinggalkanmu dalam masa laluku, tak banyak yang bisa ku lakukan.
Tapi pastilah akan ku coba,, seindah apapun dulu kamu dimataku semoga kamu juga akan nampak indah dimata wanita selainku.
Ku akui,, salah itu memang ada padaku,, kalau saja aku tak pernah melakukan hal bodoh yang mungkin melukai perasaanmu, mungkin hingga kini kita masih berdua,, berdua membangun istana cinta di hati kita.. Tapi biarkanlah,, biarkan itu hanya menjadi kenangan di masa lalu..
Jujur,, hingga kini sayang itu memang masih ada untukmu,, tapi akan ku coba relakan rasa itu pupus bersama sang waktu.. Aku yakin,, Tuhan t’lah miliki rencana yang indah untukku,, dan barangkali untukmu....
Lagi-lagi aku harus katakan ini pada cinta yang tak lagi bersahabat,, “AKU AKAN MENCOBA UNTUK MENINGGALKANMU DALAM MASA LALUKU”...
Aku teramat yakin bahwa Tuhan tidak akan mengambil sesuatupun dari makhluknya, kecuali Dia akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik..
Oleh: Fatkuryati
Malam itu adalah malam pergantian tahun, atau yang lebih dikenal dengan istilah tahun baru,, euforia cantiknya kembang api mulai terasa di menit-menit pergantian tahun. Tidak banyak yang aku bisa lakukan di malam itu. Seperti putri di negri dongeng yang terkurung dalam khayalan-khayalan indah. Untuk ikut bernostalgia di malam tahun baru bersama teman-teman semasa SMA pun aku tak dapat izin dari sang bunda. Untuk hal seperti ini mamah selalu punya dua alasan. Alasan pertama, aku masih selalu di anggap anak kecil.
“nah lhoooo,,, aku kan udah umur 20 tahun mah, semester 5 lhoo aku, sekitar dua tahun lagi insyaallah aku lulus kuliah, gumamku dalam hati”.
Alasan kedua, suasana malam di kota sangat tidak baik, pergaulan di sana bahkan tidak pernah mengenal aturan.
“Hmmp,, ya ampuunn ini kan masih kota Serang mah bukan Jakarta,, toh aku juga bukan keluyuran sendiri yang gg jelas, tapi sama temen-temen yang sebagian besar udah mamah kenal dengan sangat baik, jawabku pelan”.
“iyah mamah tahu, tapi mamah yakin kamu paham betul makna dari alasan-alasan mamah, jawab mamah dengan bijak”.
Aku tidak bisa mendesak mamah untuk memberikan izin, aku takut mamah akan sedih bila ada bantahan di tengah perhatiannya, aku tahu semua kekhawatirannya semata-mata karena ingin melindungi dan menjagaku. Sepeninggalnya ayah beberapa tahun silam, mamah memang berubah jadi over protektif, untuk sebuah keselamatan anak-anaknya beliau lebih rela di hujat banyak orang daripada akan ada apa-apa nanti. Di rumah memang tak ada lelaki dewasa yang bisa benar-benar melindungiku, kedua kakak priaku telah menikah dan tinggal bersama keluarga kecilnya masing-masing, di rumah hanya ada aku, mamah dan kakak wanitaku dengan perbedaan usia 3 tahun. Jadi wajar saja bila mamah merasa memiliki tanggungjawab yang sangat lebih. jika terjadi apa-apa dengan putrinya, ia akan merasa sangat berdosa. Oleh karenanya, sebelum hal itu terjadi, beliau lebih memilih untuk menjagaku dengan caranya.
Di tengan perbincangan itu,, mamah memetikkan ibu jari dan jari tengahnya, pertanda memberikan ide.
“hmmmp,, untuk menghabiskan malam tahun baru, gimana kalo kamu ikut acara mamah” usul mamah.
“Acara apa mah?" tanyaku.
“kamu ikut mamah pengajian di pendopo kantor Bupati, Serang.. gimana??” tanya mamah.
Dengan spontan aku mengangkat sebelah alisku, “hmmp, ya udah deh aku mau, daripada di rumah, pastinya nanti aku akan benar-benar jadi gadis di negri dongeng yang merindukan dunia luar,” jawabku dengan ekspresi seadanya.
“Nahh gitu dooong, ini baru namanya anak mamah,” ucap mamah sambil mencium keningku.
Dalam perjalanan menuju kantor bupati, mataku terasa disuguhkan dengan pemandangan indah tahun baru. Banyak sekali penjual dadakan yang mencoba peruntungannya di malam ini,, dengan mencoba berjualan pernak-pernik dan makanan khas tahun baru. Para penjual terompet, petasan, kembang api, dan balon berjejer menawarkan barang dagangannya. Bahkan karena maraknya penjual, para konsumen terlihat dibuat bingung untuk membelinya. Asap jagung bakar pun seolah menggoda para penikmat tahun baru untuk sekedar mencicipinya. Dan yang tak kalah menarik,, ada pasar malam di Alun-alun kota Serang, terlihat sesak, orang-orang mencoba menghibur dirinya dengan sekedar berbelanja, menikmati wahana permainan atau makan bersama dengan sang kekasih hati. “Oohh tidak, sepertinya malam ini memang tak ada pangeran menjemputkuku, huufftt jadi merasa sedikit cemburu dengan mereka, ucapku lirih sambil memonyongkan bibir”.
“tapi aku tetap bersyukur masih diberi kesempatan untuk bisa melihat pemandangan seelok ini,, semoga nikmat sehat-Mu yang tak terkira banyaknya ini, selalu menjadikanku untuk tetap bersyukur, ucapku dalam hati dengan mimik takjub”.
Dan ternyata di pendopo kantor bupati pun tak kalah sesak,, para jamaah berlomba-lomba untuk menempati posisi terdepan, katanya akan ada penyanyi lokal Banten yang pernah melanglang buana di stasiun TV swasta, presenter yang cukup terkenal di acara dakwah, juga ustadz yang cukup membumi di Banten dan hiburan lainnya yang tak kalah menarik.
Anehnya,, di tengah acara ini berlangsung,, tiba-tiba aku teringat sebagian kenangan masa laluku.. Aku seperti orang dengan raga yang tertinggal di pendopo, sementara pikiran dan nyawaku berkunjung menjelajah kembali ke masa lalu.
Dia,, pria itu... pria yang baru 2 tahun lalu ku kenal. Tampan, baik dan dewasa,, Ia adalah mantan kekasihku. 100 hari bersama,, ternyata cukup untuk membuatnya berkarat dalam ingatanku . Aku tak pernah tahu, kenapa hingga kini ia masih cukup berarti untuk hidupku. Kami sama-sama mengakui bahwa kami masih saling merindukan satu sama lain. Ketemu, jalan dan makan bareng adalah hal yang biasa kami lakukan untuk sekedar mengobati rindu itu.
Kadang ia masih suka mengirimiku pesan singkat yang manis,, hingga aku merasa aku adalah wanita terbahagia di dunia. Ini adalah salah satu pesan singkatnya.
“tak apa, kalau kamu masih malu untuk bilang sayang kembali, tapi yang penting hatimu masih tersimpan indah dalam hatiku”
Heiii pria yang menjadi mantan kekasihku,, tahukah kamu,, aku malah seperti wanita gila ketika membaca pesan singkatmu itu, loncat-loncat bahagia layaknya anak kecil yang mendapatkan hadiah balon, dan senyum-senyum sendiri seperti penghuni RSJ yang melarikan diri. Dan tahukah kamu,, Itu adalah pertanda bahagianya aku ketika ku tahu kau masih memiliki rasa yang sama.
Jujur,,, hingga kini aku masih menyayangimu, aku tak pernah mampu untuk menggantikan namamu dengan nama yang lain. Bahkan aku lebih memilih untuk menolak cinta 5 pria lain, daripada menghapus namamu. Aku tahu 5 pria itu kecewa karenaku, tapi aku tak dapat membohongi perasaanku bahwa kamu masih cukup berarti untuk hidupku.
Jika kamu izinkan,, rasanya aku ingin kembali menjadi satu-satunya wanitamu.. malam ini aku bukan seperti jamaah yang khusu mendengarkan tausiyah di tempat pengajian.. tapi aku seperti menjadi tokoh utama di sinetron Lorong Waktu, acara ramadhan semasa aku SMP. Di lorong waktu ini aku seolah dikirimkanku ke cerita cinta masa lalu.. Ya benar kamu memang masa laluku,, tapi aku ingin kamu menjadi teman masa depanku,, bersama dalam sisa hidupku sampai Tuhan akan memanggil kita nanti.
Aku cukup bahagia dengan semua itu,, tapi entah aku merasa kini kamu berbeda.. kamu tak lagi bersikap semanis beberapa waktu yang lalu.. Tak ada lagi kata rayuan,, tak ada lagi kalimat gombalan dan tak ada lagi ucapan manis bahwa kamu masih menyayangiku sebagai mantan kekasihmu. Pikiranku terbang hingga ke awang mencoba menerka apa yang sedang terjadi denganmu,, banyak terkaan yang bisa menggalaui hatiku malam itu.. Dari mulai, sepertinya kamu sedang menyukai wanita lain,, mencoba menjadikanku hanya cinta masa lalu,, kamu tidak lagi menyayangiku,, dan yang paling bisa buatku sedikit tenang adalah semoga kamu memang hanya sedang sibuk menyelesaikan tugas akhirmu (skripsi), bukan karena kau terjebak cinta dengan wanita lain.
Entahlah,, euforia tahun baru itu tak lantas mebuat hatiku riang.. Ada kegalauan yang buatku merasa tak nyaman,, di tengah ramainya pendopo Serang,, aku malah berpikir untuk mengirimimu puisi ungkapan hati via sms,, Ini adalah puisi yang ku kirimkan di tengah kegalauan yang menghimpit hatiku,, sebenarnya dengan puisi ini aku mengharapkan kamu membalasnya dengan kata yang sama indahnya dan tentunya bisa buat hatiku tak segalau ini.
Aku tak pernah tahu
Aku tak pernah tahu,,
Kenapa hingga kini kau masih cukup berarti untuk hidupku
Ada rasa yang berbeda ketika ku mengingatmu
Tak sama dengan ketika ku mengingat yang lain
Aku bahkan tak pernah tahu,,
kenapa Tuhan s’lalu hadirkan bayangmu di pikiranku
Aku tak pernah sekalipun berusaha tuk mengingatmu,,
Tapi sepertinya Tuhan tahu bahwa kau masih dihatiku
Rasa ini tak ubahnya rembulan yang selalu nampak bersinar,,
Indah,, dan mempesona..
Aku tak pernah mampu tuk meninggalkanmu jauh dari pikiranku,,
Sepertinya aku mulai mencintaimu kembali..
Percayalah,,
Aku mencintaimu dengan hati
Dengan hati yang tak bisa ku sematkan pada lelaki selainmu
Dan aku menyayangimu dengan nada
Dengan nada yang tak bisa ku harmonikan pada yang lain,,,
Pernah kucoba tuk lupakanmu,,
Melempar bayangmu hingga langit ke tujuh,,
Tapi nyatanya,, aku tak pernah mampu untuk tak mengingatmu..
Entah,,
Sepertinya kau masih berkarat untuk hatiku..
Ting-ting-ting (tanda pesan masuk),, itu pertanda bahwa sms yang ku kirim telah sampai ke ponselnya dan mungkin sedang dibaca.
“Allhamdulillah puisiku telah sampai ke ponselnya,, semoga akan ada balasan yang nantinya tak membuat ku kecewa,, ucapku dalam hati”.
Bermenit-menit ku tunggu,, dan sekarang menit tak lagi sebagai menit,, aku menunggunya hingga berjam-jam.
“huuuuffffttthh,,, sepertinya memang benar aku tak lagi berarti buatmu,, mungkin memang kamu sedang terjebak dengan cinta yang lain,, ucapku lirih mencoba menerima kenyataan”.
Aku berusaha menguatkan diriku sendiri atas rasa kecewa yang kini tak lagi klise.
”yahhhh,,, sepertinya aku memang harus benar-benar melupakanmu,, melempar bayangnya jauh-jauh hingga langit ke tujuh,, ucapku lirih seolah tertusuk sembilu”.
Aku memang tak tahu,, adam dari sisi mana yang akan Tuhan pilihkan untukku..
Seperti apa,, dan bagaimana ia,, tak ada yang tahu untuk masa depan.. Mungkin benar kau memang hanya ada di masa laluku.. Jika memang Tuhan tak takdirkan kita bersama, setidaknya aku pernah melewati 100 hari bahagia bersamamu dan jika Tuhan akan menghapusmu dari ingatanku,, itu karena Tuhan akan menggantikanmu dengan adam yang lebih baik..
Ikrarku,, akan ku coba tuk tinggalkanmu dalam masa laluku, tak banyak yang bisa ku lakukan.
Tapi pastilah akan ku coba,, seindah apapun dulu kamu dimataku semoga kamu juga akan nampak indah dimata wanita selainku.
Ku akui,, salah itu memang ada padaku,, kalau saja aku tak pernah melakukan hal bodoh yang mungkin melukai perasaanmu, mungkin hingga kini kita masih berdua,, berdua membangun istana cinta di hati kita.. Tapi biarkanlah,, biarkan itu hanya menjadi kenangan di masa lalu..
Jujur,, hingga kini sayang itu memang masih ada untukmu,, tapi akan ku coba relakan rasa itu pupus bersama sang waktu.. Aku yakin,, Tuhan t’lah miliki rencana yang indah untukku,, dan barangkali untukmu....
Lagi-lagi aku harus katakan ini pada cinta yang tak lagi bersahabat,, “AKU AKAN MENCOBA UNTUK MENINGGALKANMU DALAM MASA LALUKU”...
Aku teramat yakin bahwa Tuhan tidak akan mengambil sesuatupun dari makhluknya, kecuali Dia akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik..
*****
Read more: http://cerpen.gen22.net/2012/01/cerpen-cinta-mencoba-tinggalkan.html#ixzz2DoJj7tay
MENANTI DIRIMU
Cinta adalah ketika kamu menitikkan air mata, tetapi kau masih
peduli kepadanya. Ketika dia meninggalkanmu kau masih setia
menunggunya.
Sudah 6 tahun kujalani hari-hariku bersama dia. Suka, duka, canda tawa dan tangis aku slalu bersamanya. Harris adalah sosok yang sangat berharga bagiku dan tak bisa tergantikan. Dia slalu menjaga, mencintai dan menyanyangiku sepenuh hati dan slalu menemaniku dengan senyuman manisnya itu. Dia slalu ada untukku, kapanpun dan dimanapun aku berada.
Harris adalah sosok yang ulet, rajin dan cerdas. Tidak heran dia mendapatkan beasiswa di luar negeri. Harris memilih Amerika Serikat sebagai tempat untuk melanjutkan studinya. Mau tidak mau Harris akan meninggalkan aku sendiri dengan cinta kita berdua. Aku tidak bisa sesering lagi melihat senyumannya yang biasa menghiasi setiap waktuku.
Hari ini adalah waktu keberangkatan Harris. Disinilah keutuhan dan kekuatan cinta kami di uji. Waktu dan jarak akan menjadi saksi. Di dalam taksi aku mengantarkan Harris ke bandara. Aku hanya terdiam membisu. Perasaan sedih dan takut menghantuiku. Selama ini aku tak pernah jauh sama dia namun aku harus di pisahkan oleh ruang dan waktu.
Detik-detik perpisahan sudah semakin dekat. Aku tak dapat membendung air mataku dan perasaanku menjadi tidak menentu. Aku yakin Harris juga merasakan hal yang sama. Dengan kehangatannya dia menenangkan,menguatkanku agar dapat menerima semua kenyataan ini. Dan juga dia menyakinkanku bahwa jarak dan waktu bukanlah masalah, melainkan kesetian cinta diantara kami berdua yang harus tetap kokoh dan kuat.
“Berjanjilah untukku bahwa kau akan setia menjaga cinta kita ini.”Ucap Harris sambil mengusap air mataku yang sejak perjalanan tadi tidak berhenti.
“Aku janji, dan aku akan setia menunggumu.”Ucapku singkat sambil memeluknya. Dan tangisku pecah. Semua terasa berat, seakan ini tak adil bagi kami berdua. Di belainya rambutku seraya agar aku tetap tenang dan tegar.
Ia pun menggenggam kedua tanganku dan menatapku dan berkata :
“Aku janji akan menjaga semua ini, dan aku akan kembali seperti sekarang ini dan membawa kembali cinta kita berdua.”Kata Harris padaku.
Sejenak kami berdua diam, membiarkan hati kami berbicara. Perlahan aku mulai melepaskan genggamannya dan dikecupnya keningku dengan penuh cinta olehnya.
“I Love you”,” I love you too”. Kata singkat yang hanya dapat mewakili semua perasaan kami berdua. Dia pun melangkah dan mulai meninggalkanku.
Sepanjang perjalanan pulang aku hanya diam membisu dan sesekali air mataku berlinang.
********************<<<<<<>>>>>>***********************
Waktu bergulir dengan cepatnya. Tak terasa sudah 1 tahun 5 bulan, hubungan kami berjalan dengan baik tanpa ada rintangan. Hanya saja perasaan rindu yang slalu menyiksa hati ini. Tapi tidak sama halnya dengan Harris tak tahu mengapa suatu hari ia menyuruhku untuk melupakannya dan mencari penggantinya.
Sebenarnya tak ada masalah diantara kami berdua. Ia menyuruhku mencari penggantinya karena takut kalau aku kesepian dan ternyata ia telah membagi cintanya dengan teman kuliahnya di Negeri Paman Sam itu.
“Ra, maafin aku telah membagi cintaku kepada orang lain dan tolong lupakan aku karena aku telah mengkhianatimu.”Ucap Harris di telfon.
Aku tak dapat berkata, hati sakit teriris oleh luka yang ia beri padaku. Harris yang aku kenal dulu kini telah berubah. Harris dulu sangat sayang dan slalu menjagaku tidak pernah membuat hatiku sakit, kini ia telah berbeda. Sekarang aku berdiri tanpa pegangan dan aku bersandar tanpa sandaran.
Waktu terus berlalu, tidak ada sama sekali kabar dari Harris. Semenjak pernyataan itu ia tidak mau lagi mendengarkan kata-kataku lagi dan tak pernah lagi ia menjawab sms, e-mail bahkan pesan di facebook. Aku merasa sangat sedih dan kecewa. Aku sama sekali tidak bisa melupakannya dari kehidupanku. Dan aku meninggalkan pesan terakhir di e-mailnya :
“ Ris, cintaku padamu tidak akan pernah berubah dan aku akan setia menunggumu sampai saat ini dan jika nanti memang kau bukan milikku baru aku akan rela melepaskanmu untuk bahagiamu.
Setelah itu kuputuskan untuk tidak mengganggunya dan menghubungi dia lagi walau ada rasa kerinduaan di hati ini. Aku sibukkan diriku agar dapat sejenak melupakan Harris. Banyak teman cowokku yang mendekatiku namun sosok Harris sulit digantikan oleh orang lain.
Waktu terus berputar tanpa ku sadari sudah 3 tahun aku telah berpisah dengannya. Aku gelisah ingin sekali ku mendengar suaranya, melihat senyuman dan mengetahui kabar beritanya. Kapan dia akan kembali kepadaku dan apa ia masih berhubungan dengan gadis itu ? Entahlah aku tak dapat berbuat banyak, yang hanya dapat ku lakukan hanyalah setia menunggunya.
Dan suatu hari tiba-tiba….
“Drreettt…..drrreettt….”Hpku bordering tanda sms masuk.
Kubuka perlahan membuka pesan itu dan ternyata itu sms dari Harris. Ingin rasanya ku menangis dan kubaca ulang pesan itu baik-baik untuk menyakinkan. Aku merasa seperti bermimpi.
“Ra….. Apa kabar..”sms singkat Harris.
Rasanya ku ingin berteriak pada dunia agar dunia tahu aku sangat bahagia. Dan cepat ku membalas sms itu.
“Ris… aku baik-baik ajha. Kamu bagaimana ? Kapan pulang ? Aku kangen banget sama kamu. Aku akan tetap menunggumu sampai kamu pulang.
Ku tunggu balasan darinya, namun ia tak membalas. Aku kian gelisah dan air mata selalu mengurai semua perasaan yang kurasakan.
Hingga suatu hari ku memberanikan diri untuk menelfonnya. Aku sudah bertekad untuk mendapat semua penjelasan darinya.
“Ris..” Hanya kata itu yang terucap dari bibirku.
“Ra, maafin aku, karena aku sudah mengkhiatimu dan menghancurkan cinta kita berdua. Maafin aku.”Ucap Harris padaku.
Kata-kata itu membuatku terharu dan meneteskan air mata. Hingga ku tidak bisa berkata-kata.
“Dan satu hal lagi sayang… aku sudah tidak bersama gadis yang aku pilih itu. Dia malah balik mengkhianatiku dan pergi bersama laki-laki lain. Jadi, sekarang aku baru merasakan hal yang sama waktu aku memutuskanmu dulu. Maafin aku, mungkin ini sudah terlambat.” Ujarnya.
“Ris.. aku masih seperti dulu yang masih setia menunggumu dan tidak ada yang bisa menggantikanmu.”Kataku.
Sejak saat itu kuputuskan untuk menjalin lagi hubungan cinta bersamanya yang dulu pernah kandas di tengah jalan. Dan dia berjanji tidak akan meninggalkanku lagi. Aku sangat senang dan merasa bahagia. Tinggal 3 bulan lagi kedatangan Harris dan kami berdua akan melangsungkan pernikahan.
Akhirnya penantianku berbuah manis. Pernikahan ? menikah dengan orang yang kucintai. Rasanya seperti mimpi.
Hari ini adalah hari kepulangan Harris dari Amerika Serikat. Aku dan kedua orang tua serta adik Harris menuju bandara untuk menyambut kedatangan Harris. Sebelum berangkat Harris sempat smsan sama aku.
“Yank… aku senang akhirnya aku bisa pulang dan bisa melihatmu lagi jika di beri kesempatan, aku cinta kamu.”Ucap Harris menutup hpnya karena pesawat akan lepas landas.
Perasaan gembira menjadi duka dimana saat petugas bandara memberitahukan pesawat penerbangan AS-INA dinyatakan hilang. Teriak tangis memenuhi ruang tunggu.
Aku sontak kaget karena itu adalah pesawat yang ditumpangi Harris. Aku tak dapat membendung air mataku, badanku lemas bagai di sambar petir dan aku tak sadarkan diri.
Saat ku siuman ternyata aku sudah ada di rumah sakit. Aku hanya dapat meratapi kejadian ini
“Ya Tuhan, mengapa kau buat aku begini ? Dan mengapa kau ambil dia dari sisiku ? Kenapa bukan aku saja ?”Ucapku sambil menangis.
Ibu dan adik Harris memelukku agar aku bisa tenang dan tabah menerima semua ini.
Sudah 1 minggu bangkai pesawat yang ditumpangi belum ditemukan sampai sekarang. Hal itu membuatku tidak mampu menghadapi semua ini serasa aku ingin mengakhiri hidup ini. Apa aku bias hidup tanpamu ? Tak pernah terfikir olehku kau akan pergi tinggalkan ku sendiri. Semua tinggal kenangan yang hanya bisa ku kenang.
Aku berharap mudah-mudahan kau tenang di sana.
“Selamat Jalan Kasihku Harris, aku yakin kau bahagia di sana.”




Tidak ada komentar:
Posting Komentar