KUMPULAN CERPEN CINTA
KATA CINTA YANG KEDUA
Awal aku masuk kuliah selama beberapa hari menjalani penyiksaan yang
begitu pahit oleh senior yang kejam dan jahat. Dengan berkendaraan bus
yang penuh sesak, ku masuki bus itu dengan sedikit hati hati, ku duduk
di sebuah tempat dekat jalan, yang kurasa agar tidak terlalu sulit jika
aku turun nanti, ku duduk dengan manisnya, sambil melihat orang di
sekitarku. Rasanya ada yang aneh dengan gerombolan 6 orang yang duduk
paling belakang itu. Rupanya aku kenal salah satu dari mereka tapi aku
tidak tau namanya, ya.. teman satu jurusanku namun kita sama sekali
tidak bertegur sapa, mungkin karna aku terlalu pendiam, mungkin juga dia
tidak mengenaliku. Namun ada seseorang salah satu dari mereka yang
agaknya terlalu memperhatikanku, dan saat aku melihatnya ke belakang
untuk melihat keadaan, rupanya dia sedang melihatku , tatapan kami
terhenti di salah satu sudut. Karena dia yang terlebih dulu melihatku,
dia pula yang melempar senyum terlebih dulu kepadaku, tanpa canggung aku
pun membalas senyumnya.

Ku
buka kembali Diary lamaku saat aku pertama kali bertemu dengan Kevin.
Rasanya tak pernah terfikirkan olehku akan melewati masa sesulit ini
ketika telah mengenalnya.
“hayooo ngelamunin Kevin ya?” tiba-tiba Adel datang ke kamar.
“apaan si lo, sok tau.”
“eh apaan tuh liat dong, lucu gitu bukunya, ada foto kamu sama Kevin lagi.” Sambil merebut buku yang di tangan Widy.
“eh jangan itu Diary gue” balik Widy merebutnya, tapi tak berhasil.
“ah biarin gue pengen tau.”
Akhirnya Widy menyerah membiarkan Adel membaca buku Diarynya itu.
Setelah lama Adel membaca halaman pertama buku itu diapun berkata.
“jadi rupanya lo tuh suka pada pandangan pertama nih.”
“eh engga ya, dia dulu yang ngelempar senyum ke gue, terus minta nomer
gue ke Raka, temen satu jurusan gue itu yang satu bus sama gue waktu
itu. smsin gue, ngajak jalan, sampe deket kaya gini, dan tiba-tiba dia
pacaran sama Nuna.” Menceritakannya dengan emosi, lalu Widy mengeluarkan
air matanya.
“sabar ya wid, gue rasa Kevin tuh ga bermaksud nyakitin elo, dia kan ga tau kalo Noumi itu kakak lo.”
“dia tuh kakak tiri gue, dan kalo emang seorang kakak dia gak mungkin sejahat ngerebut orang yang gue suka.”
“tapi lo gak pernah bilangkan orang yang lo suka itu Kevin, mana dia tau kalo dia yang lo suka.”
“udahlah Del ga usah bahas dia lagi, mulai sekarang gue benci sama Kevin dan Noumi!”
Noumi, dialah yang sudah menghancurkan semuanya, aku terbiasa
memanggilnya Nuna(sebutan kakak perempuan dalam bahasa Korea),dia adalah
kakak tiri aku yang kuliah dan tinggal di Korea , dia tinggal disana
bersama Paman Lian yang membuka usaha restaurant khas Korea, aku yang
tidak suka dengan musim dingin hanya tinggal di Jakarta bersama Papah
dan Mamah tiriku. Noumi ternyata teman sewaktu SMA Kevin, yang pernah
disukai Kevin dulu tapi kenapa harus Noumi? dia orang yang terdekat
denganku, dan kenapa aku harus tau sekarang, ketika aku sudah
benar-benar menyayanginya.
Beberapa minggu lalu Kevin pernah menyatakan cinta padaku, tepatya saat
aku pulang kuliah, tanpa ragu dia menyatakan kata-kata cinta itu dengan
lancar, sampai aku seperti terhipnotis tak sadar melihat tingkah dan
deretan kata-kata itu. Namun karna aku bingung dan ragu aku
menjanjikannya akan menjawab pada saat malam minggu di Cafe tempat biasa
kita makan bersama.
Memang waktu belum mengijinkan kita, pada saat itu banyaknya tugas yang
datang mengahampiri membuat aku lupa akan hal itu. Berjam-jam ternyata
dia menunggu di Cafe, dan aku memang benar-benar lupa. Seperti
penyesalan yang amat mendalam, dia mengira aku tak datang menemuinya
karna aku menolak cintanya, beberapa kali aku jelaskan aku lupa untuk
datang ke Cafe itu, tapi Kevin hanya menjawab “lupakan saja Wid, anggap
saja itu tak pernah terjadi.” dan aku sangat tau Kevin, sesekali ia
dikecewakan, dia takan pernah memberikan kesempatan untuk orang yang
pernah mengecewakannya. Dan aku menunggu dia menyatakan cinta itu lagi,
karna aku takan menyia-nyiakannya untuk kedua kali, karna aku
mencintainya. Tapi kemana dia, cinta itu tak pernah keluar dari mulutnya
lagi sampai pada akhirnya dia menemukan Noumi, sahabatnya dulu yang
pernah disukainya. Sampai pada akhirnya aku memutuskan, untuk merelakan
semuanya. Bahwa Kevin kini telah menjadi milik Noumi.
Malam ini sengaja aku duduk ditaman rumah, malam inikan malam ulang
tahunku tapi semuanya nampak sepi, Papah Mamah yang sedang berkunjung ke
Korea menjenguk Paman Lian yang sedang sakit, tidak kunjung pulang
sampai hari esok tiba. Headset yang tertempel ditelinga seperti melekat,
aku menikmati alunan musik yang bertema galau, pas sekali dengan apa
yang ku rasakan. Tiba-tiba Pemandangan yang tidak menyenangkan, oh Noumi
dan Kevin, inikah kado terburuk yang pernah kudapatkan dihari
ulangtahun ku besok, kemesraan yang tampaknya mereka pamerkan membuatku
iri, harusnya aku yang sedang tertawa mesra bersama Kevin disana. Tak
biasa mereka pulang semalam ini tepatnya jam 10 malam, pasti mereka
habis makan di Cafe, nonton, semua hal yang mengasikan.
Saat mereka lewat didepanku, akupun sengaja menutup mata, agar tidak
menambah beban pikiranku, dan diam-diam saat mataku terpejam, rasanya
pipiku sudah basah terbanjiri air mata.
“kenapa malam-malam kamu masih diluar Wid?” tanya Kevin.
Rupanya alunan musik yang terdengar ditelinga Widy, membuatnya tidak
mendengarkan ada suara apapun selain lagu lagu yang didengarnya.
“hei widy.” Sapa Kevin sambil menyentuh tangan Widy, agar Widy merasakan bahwa disana ada orang yang mengajaknya berbicara.
Mata Widypun terbuka dan dengan kagetnya, sampai gelas lemon tea didekatknya terjatuh.
“eh, eh Kevin.”
Entah apa yang harus aku lakukan pada saat itu, suara pecahan gelas
membuatku makin panik dan aku memunguti pecahan-pecahan gelas itu.
Sebenarnya jika situasi sedang normal aku tidak akan melakukan hal itu,
aku akan mengusir Kevin jauh-jauh dan menyuruhnya pergi. Dengan
tergesa-gesa membereskannya membuat beling pecahan gelas itu, melukai
tanganku. Kevin hanya terdiam melihat tingkahku. Dan ketika ia tersadar
iapun langsung membantuku, mengeluarkan sapu tangan, dan membalutkannya
ke tanganku yang luka.
“kamu tuh kenapa si, ga biasanya banget?” tanya Kevin.
“habisnya kamu tuh dateng tiba-tiba, bukannya tadi kamu bersama Nuna masuk kedalam eh tiba-tiba kamu ada disini.”
“ya gapapa dong sekali-kali akukan pengen sama kamu.”
Kata-katanya membuat aku benar-benar kesal, kamipun duduk berdua diatas
ayunan panjang itu. Diam sejenak tanpa ada yang berkata-kata.
“sebaiknya kamu panggil Nuna sanah, dan aku mau istirahat.”
Diam itu saat bersama Kevin itu, membuat kenyamananku terganggu, aku putuskan untuk kembali ke Kamar.
“eh Wid, disini aja. Noumi sedang mandi katanya dan kamu harus menemani aku.”
“kenapa begitu”
“karna akukan tamu, masa tamu dibiarkan sendiri, ayolah yah yah...” mintanya dengan manja.
“engga!” Widy lari menuju rumah, dan Kevinpun mengejarnya
“kenapa kamu jadi seperti ini si Wid? Kamu tidak seperti kamu yang dulu dan aku tidak suka.”
“dan kamu pikir aku suka kamu dekat dengan Nuna, lalu melupakan aku begitu saja?”
“apa wid, jadi kamu tidak suka aku dekat Noumi?”
“eh bukan itu maksud aku.” Widy berusaha mengelak.
“wid sekarang aku tau perasaan kamu, akhirnya kamu menjawab semua rasa penasaran yang aku rasakan selama ini.”
“maksudnya?”
“sebenarnya aku tidak pernah pacaran bersama Noumi, akupun tidak
pernahkan bilang kalo aku pacaran sama Naomi bukan, tapi kamu sendiri
yang menganggap semua itu.”jelas Kevin.
“ah sudahlah lepaskan, aku tidak mau lagi mendengar semua itu.”
Widypun lari ke dalam rumah, dan berhenti ketika melihat Noumi sedang
membuat kue ulang tahun, ah pasti itu buat Kevin, hari ini kan dia juga
ulang tahun. Pasti mereka bakalan ngerayain bareng diatas penderitaan
gue.
Kevinpun ikut lari ke dalam rumah.
“Widy, kenapa kamu masuk ke dalam, harusnya kamukan menemani Kevin diluar.”
“ah urusi saja pacarmu itu sendiri.”
Ketika Widy mencoba berlari lagi menuju kamar, langkahnya terhenti karna salah satu tangganya berhasil dipegang erat oleh Kevin.
“jangan pergi lagi Widy.”
Sontak Widypun kaget dan mencoba melepaskan pegangan itu, saat berhasil terlepas widypun berkata.
“apa si maunya kalian itu, aku hanya ingin tenang silahkan kalian bercinta sesuka kalian tapi jangan ganggu aku lagi.”
“Widy apa maksud kamu?”
“Nuna pacaran sama Kevinkan, dan Nuna tau dia itu orang yang sering Widy
ceritakan kepada Nuna saat kita sedang curhat bersama melalui e-mail.”
Noumi hanya tersenyum lalu mengatkan “Happy Birthday Widy.”
Nuna sambil berteriak, aku bingung seperti konyol sekali, itukan kue untuk merayakan hari ulang tahun Kevin.
“Widy maafkan aku, ini semua rencana aku, aku ingin tau sekali lagi
perasaan kamu, dan aku rasa ini satu-satunya cara agar aku tau perasaan
kamu, kamu cemburukan wid aku bersama Noumi, dan itu artinya kamu juga
suka kan sama aku?”
Widy seolah tak percaya akan hal itu, air matanya mengalir ke lekuk pipinya.
“aku cinta sama kamu widy, sekali lagi aku ungkapkan itu, dan aku mau
kamu menjawabnya sekarang, apapun jawaban kamu aku siap, tak perlu
menunggu lain waktu, maukah jadi pacar aku?”
Tanpa berkata Widy langsung memeluk Kevin.
“jangan lakukan ini lagi, aku juga cinta kamu dan kamu harus tau itu.”
Pelukan yang berlinang air mata, mengakhiri sebuah kebahagiaan.
“Nuna maafkan aku yang selama ini sudah membenci Nuna.”
“tidak apa-apa, memang harusnya begitu kalo memang Nuna melakukan itu.”
Malam itu malam yang indah, aku merayakan ulang tahunku bersama Kekasihku dan Nuna, orang yang sangat aku sayang.
TERNYATA KAMU
Oleh: Mentari Senja - Hari ini aku dan Shinta akan menjemputmu di
Bandara, sepuluh tahun sudah kita tak berjumpa. Setelah keluargamu
pindah, aku dan Shinta hanya bisa merindukanmu. Sepuluh tahun kami
jalani hidup berdua tanpa dirimu, tanpa kebersamaan dan tanpa
kegilaanmu. Kami sangat merindukanmu, terkhusus untukku.
“duh lama banget ya ri...mana sih Radit katanya dateng jam 10.00. ini
dah jam 10.00 lewat tapi belum nongol juga tuh batang hidungnya.”shinta
melirik jam warna pink ditangannya sambil terus mencari-cari sosok
seorang Radit. Terlihat kegelisahan diraut wajah cantiknya.
“ sabar lah Shin, bentar lagi juga nyampe. Mungkin emang
agak telat paling pesawatnya. Ya udah kita tunggu aja disini.”aku
mencoba menenangkan Shinta, walau aku sendiri juga agak gelisah.
“eh...ri kira-kira Radit curiga ga ya. Kalau selama ini
yang sering bales e-mail dia bukan aku. Apa dia masih suka sama
aku.”shinta jadi gelisah sendiri, dia takut Radit kecewa kalau selama
ini bukan Shinta yang ngbales semua e-mail dari Radit.
“udahlah tenang Shin, Radit ga bakal tau ko. Lagian kan
walaupun aku yang bales tuh e-mail radit, tetep aja aku pake nama kamu.
Jadi kamu tenang aja deh. Dan dari semua e-mail yang dia kirim, aku
yakin dia masih suka sama kamu,”shinta agak sedikit tenang setelah
mendengar penjelasanku.
“thanks ya riri, kamu emang sahabat yang baik. Kamu tau
sendiri kan aku paling males kalo suruh ngebales e-mail. Aku ga suka
diem dikamar Cuma buat mantengin laptop. Mendingan shopping, hehehehe.
Tapi untunglah ada kamu, jadi aku selalu tau keadaan Radit. Dan yang
paling penting aku tau kalo Radit masih suka sama aku.”shinta
senyum-senyum sendiri membayangkan Radit.
Aku cuma tersenyum melihat sahabatku ini, walaupun ada
sedikit rasa sedih. Karena selama ini aku juga memendam perasaan pada
Radit. Selama sepuluh tahun ini aku dan Radit memang masih sering
berkomunikasi, tapi komunikasi ini hanya kepura-puraan. Radit menyangka
kalau yang ngebales semua e-mailnya adalah Shinta, perempuan yang dari
dulu dia kagumi.
Setelah tiga puluh menit lamanya kami menunggu Radit,
akhirnya pesawat yang ditumpangi Radit datang juga. Perasaanku mulai
berdebar-debar, membayangkan bagaimana Radit sekarang. Apakah dia akan
mengenaliku, taukah dia kalau selama ini aku lah yang selalu menemani
malam-malamnya lewat dunia maya. Apakah Radit juga merasakan apa yang
aku rasa. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaanku tentang Radit. Semoga
dia tidak berubah.
“jantungku deg-degan ri, kira-kira sekarang Radit seperti
apa ya. Aku ga sabar neh. Duh mana ya Radit.”dengan mengangkat papan
nama bertuliskan Radit, Shinta mencoba mencari sang pujaan hati.
“shin, mungkin itu dia Radit. Lihat lelaki itu, dia
datang kearah kita, pasti itu Radit.”aku menunjuk kearah lelaki tinggi
memakai jaket jeans biru.
“sepertinya iya, wah keren juga ya Radit sekarang. Aku jadi makin suka deh”
Lelaki berjaket jeans itu semakin mendekat, dia melambaikan tangannya
menandakan bahwa memang benar dia adalah Radit. Akhirnya ketemu juga
dengan Radit, Radit kini sudah menjadi sosok lelaki dewasa.
“hallo princess, apa kabarmu...”Radit mendekatkan diri
pada Shinta, menyapa Shinta dengan sebutan yang biasa dia ucapkan padaku
saat didunia maya.
Princess ??so sweet, Radit romantis sekali padahal baru
saja ketemu Shinta hanya berdiam diri, dalam hati shinta berkata-kata
siapa yang Radit sebut dengan Princess, tapi itu ga terlalu penting bagi
Shinta. Shinta tak memperdulikan Radit akan memanggilnya apa. Yang dia
rasakan hanya senang karena akhirnya bisa bertemu dengan Radit.
“hallo Princess, kenapa nglamun aja. Terpesona ya ngliat
aku yang ganteng. Hahahahaha.” kata Radit karena melihat Shinta yang
bengong
“hey siapa juga yang terpesona, aku hanya ga habis fikir
aja bisa ketemu lagi sama cowok jelek kaya kamu,hehehehe.”shinta dan
Radit terlihat semakin akrab. Kulihat mereka berdua sangat cocok,
apalagi mereka berdua saling suka.
Aku hanya bisa berdiam diri melihat keakraban antara
Radit dan Shinta. Ternyata Radit tak mengenaliku, dia masih mengira
bahwa Shintalah yang menjadi teman dunia mayanya. Sedikit rasa kecewa
terpendam dihati, karena apa yang kuharapkan ternyata tak sesuai hati.
“ehemm... udah dulu dong kangen-kangenannya, sampe lupa ada orang disampingnya.” aku mencoba mencairkan suasana.
“hai nona manis, maaf aku lupa. Apa kabarmu sekarang ?
apa kegiatanmu, jangan kaya Shinta ya yang sukanya ngenet sampe
malem.”Radit melirik Shinta. Menggoda Shinta dengan lirikannya.
“kabarku baik. aku juga suka ngenet ko Dit, sama kaya Shinta.”jawabku sambil ku lirik juga Shinta
“wah ternyata kamu sama Shinta punya hobby yang sama ya,
baguslah kalau gitu. Kita semua jadi kompak. heheheh, Eh
ngomong-ngomong kamu punya e-mail ga?”tanya Radit kepadaku
“aku punya, kapan – kapan aku kasih tau kamu. Oke
sekarang kita pulang yuk ga enak kelamaan disini bisa jamuran
kita.hehehehe.” aku dan Shinta saling berpandanngan, aku tau Shinta
ingin berbicara kalau jangan sampai Radit tau yang sebenarnya.
Akhirnya kami bertiga pulang, menuju kediaman Radit yang
kebetulan tak jauh dari rumahku dan Shinta. Kami bertiga tinggal dalam
satu komplek yang sama.
****************
Pagi ini sungguh cerah, udara pagi yang sejuk ditemani hangatnya sinar
mentari pagi. Daun-daun dengan tetesan embun menyapa rerumputan yang
basah karena tetesan embun. Burung camar berkicauan menyanyikan kidung
indah tentang pagi. Dari jendela kamarku dilantai dua, aku merasakan
sejuknya angin pagi. Dan tanpa kusadari tenyata Radit telah berada
dibawah.
“woi nona manis, lari pagi yuk. Ajak Shinta juga ya.”
teriak Radit dari bawah, ternyata Radit sudah siap untuk berolahraga
pagi.
“hai....sudah lama disitu, oke deh bentar lagi aku keluar. Aku call shinta dulu ya.” jawabku
“shin, cepet bangun Radit ngajak jogging neh. Oke cepetan
bangun, aku dan Radit nunggu kamu didepan rumah.”kututup teleponnya
tanpa menunggu jawaban dari Shinta, segera kubersiap untuk jogging.
“sudah call Shinta,” tanya Radit setelah melihatku keluar dari pintu.
“yapz, udah. Kita langsung tunggu didepan rumahnya. Ayo berangkat.” ajaku pada Radit.
“oke. Ayo.”
Jarak rumahku dan Shinta tak begitu jauh, jadi tak butuh
waktu lama buatku dan Radit sampai dirumah Shinta. Pagi ini Shinta
terlihat begitu cantik. T-shirt pink dipadu dengan celana Panjang warna
putih terkesan machting dengan kulit Shinta yang putih. Dan hal ini
membuat Radit semakin terpesona.
“hello, my princess, you are beautiful.” Radit menyapa
Shinta dengan kata-kata romantis, ini membuatku sedikit sedih. Karena
bukan aku yang dia sapa, melainkan Shinta yang tak tau apa-apa.
“hallo juga cowok jelek, hehehehe.” Shinta menjawab sekenanya.
“ayo kita berangkat.” ajaku
“Oke.” radit dan Shinta masih saling berpandangan.
Setelah lima belas menit jogging akhirnya kita semua
memutuskan untuk beristirahat sejenak di taman. Disebuah bangku panjang
bercat putih, dipayungi pohon yang rindang sangat tepat untuk tempat
beristirahat. Dikanan kiri terdapat beberapa pedagang makanan dan
minuman, tempat ini memang biasa untuk orang-orang lari pagi jadi wajar
kalau banyak juga pedagang yang menyediakan makanan ataupun minuman.
Tiga botol teh dingin, serta tiga mangkok bubur ayam
menjadi santapan pagi kita setelah lelah berolahraga. Suasana kali ini
sungguh menyenangkan. Terlihat ada kumpulan anak-anak yang sedang
berlari-lari kecil dengan suara tawanya yang riang, hal ini
mengingatkanku tentang sesuatu. Terbayang waktu dulu saat kami semua
bersama. Masa-masa kecil yang selalu kami lewati dengan berbagai canda
dan tawa. Radit yang super iseng, Shinta dengan kemanjaan dan
kecentilannya, sedang aku yang pendiam. Walaupun dengan berbeda karakter
tapi kami semua tetap bisa bersatu. Sampai saat inipun kami bertiga
masih akrab.
Fikiranku pun melayang saat kuingat kali pertama Radit
membuatku kagum padanya, Radit datang membelaku saat aku dihadang oleh
anak – anak lelaki yang bandel disekolah seberang. Radit mencoba
melindungiku, dia berusaha agar aku tidak terluka. Ketika itu Radit
berkelahi dengan anak-anak itu, walaupun radit terluka juga tapi Radit
berhasil mengusir anak-anak bendel itu. Dan saat itu aku merasakan kagum
pada seorang Radit, bagiku dia adalah dewa penolong, dia juga teman
penghiburku saat aku merasa sedih. Hingga saat ini kekaguman itu masih
terjaga.
“hei... nona... ngapain nglamun.”sapaan Radit
menyadarkanku dari lamunan. Radit memang biasa memanggilku dengan
sebutan nona. Itu sebutan saat masih kecil.
“ohh...ga apa-apa ko. Cuma lagi menikmati alam, hehehe.” jawabku seraya memandang sekitar
“balik yuk, cape neh.” ajak Shinta
“oke Princess,” jawab Radit. Sekali lagi aku dan Shinta hanya saling berpandangan.
*********
“eh ri, kira-kira Radit masih percaya ga ya kalau aku yang sering balez e-mail dia dulu.” tanya shinta padaku
“emangnya kenapa, yang aku liat sih, kayanya dia masih percaya deh.” aku melihat kearah Shinta
“iya ri, sekarang aku ga yakin kalo Radit masih percaya,
soalnya sering banget kalo dia ngobrol sama aku dan kebanyakan
obrolannya itu ga nyambung. Dia sering cerita tentang dunia maya,
tentang buku love story, tentang bakso yang katanya makanan kesukaanku.
Padahal kamu tau sendiri kan ri kalo aku ga suka bakso. Apalagi tentang
lovestory. Aku jadi bingung harus jawab apa sama Radit.”shinta telihat
bingung, dia terus mengaduk-aduk minumannya dengan sedotan. Sampai mie
ayam kesukaanya tidak sempat dia makan.
“udah lah shin, aku yakin dia masih percaya.”jawabku
mencoba menenangkan. Aku hanya bisa diam, memikirkan Radit. Ternyata
Radit masih hafal tentang kebiasaanku, tentang love story, tentang
bakso, itu semua memang tentangku. Kabiasaanku berbalas e-mail dengan
Radit membawa ketidaksengajaanku untuk mengungkapkan semua kebiasaan dan
kesukaanku. Aku tak sadar bahwa kebiasaanku dan Shinta sungguh jauh
berbeda. Yang ku tau saat itu hanya rasa nyaman saat bisa berbagi cerita
dengan Radit, walaupun hanya lewat dunia maya.
Suasana kampus masih ramai, banyak mahasiswa berlalu
lalang. Dari mahasiswa yang masih punya jam kuliah sampai yang hanya
Cuma ingin menikmati suasana taman dikampus. kebetulan aku dan shinta
sudah tak ada jam kuliah. Kami menghabiskan waktu dikantin kampus. Kami
berdua hanyut dalam lamunan masing-masing, walaupun tertuju pada satu
khayalan, yaitu Radit.
“Ri, aku sudah putuskan untuk menceritakan yang
sebenarnya sama Radit. Aku ga mau terus – terusan bohong. Aku juga ga
mau terus berpura-pura tau tentang semua obrolannya. Aku ingin mencintai
Radit dengan diriku sendiri, bukan apa yang Radit ceritakan. Gimana
menurutmu ri.” tiba-tiba saja Shinta berbicara padaku,
“kalau menurutku, jangan dulu shin. Ini bukan waktu yang
tepat. Biarlah dia tau dengan sendirinya. Lagian kalau dia emang sayang
sama kamu, pasti dia bisa menerima kamu dengan apa adanya. Ya udahlah
shin jangan terlalu difikirkan.”
“gitu ya ri, hmmm ya udahlah mungkin Cuma perasaanku aja.
Thanks ya ri, kamu baik banget. Kamu juga selalu membantuku. Thanks
sob.”Shinta memelukku erat, ada kelegaan yang kulihat.
“iya shin, sama-sama. Balik yuk.”
“hmm oke,”
*********
“hei nona, lagi ngapain disini.”Radit menghampiriku saat aku berada ditaman sendiri.
“hei juga, lagi duduk-duduk aja neh, sambil baca buku.”jawabku sambil mempersilahkan Radit duduk.
“wah hoby baca juga ya kamu, lagi baca buku apa, coba aku liat.”
“love story, novel kesukaanku, ceritanya begitu romantis aku suka.”aku menyodorkan buku novelnya kepada Radit.
“Love Story???ko bisa kebetulan ya, aneh....”jawab Radit sedikit bingung sambil terus melihat buku novel itu
“Aneh kenapa.?”tanyaku sedikit ragu
“ya aneh, aku juga suka banget sama novel itu. Shinta
juga suka, dia sering ngabahas novel ini di e-mail tapi kenapa ya saat
aku tanya langsung sama dia kemaren dia seolah ga pernah tau tentang
love story.dan juga saat aku panggil dia princess dia ga ngebales
manggil aku pangeran. Aneh kan.”Radit mulai curiga dengan Shinta.
Aku langsung buru-buru mengambil novel itu dari Radit,
aku ga mau Radit tau keadaan yang sebenarnya. Sambil bersiap pamit
pulang aku berbicara.
“mungkin Shinta ingin ngetes kamu, apa dia masih ingat
atau ga sama kebiasaannya.” jawabku sembari meninggalkan Radit. Saat itu
kulihat Radit bingung. Sebenarnya Radit ingin bertanya banyak tentang
Shinta padaku tapi aku keburu pergi.
Radit, mungkinkah kamu tau bahwa itu semua
adalah aku. Akulah yang kau kira Shinta, akulah yang selalu berbagi
cerita tentang lovestory. aKu lah yang memanggilmu pangeran, dan aku lah
princessmu. Semua itu aku yang lakukan. Maafkan aku Radit, bukan
maksudku membohongimu, ini semua demi Shinta. Aku tau kamu cinta Shinta,
begitu juga Shinta. Mana mungkin aku harus menghancurkan hubungan
kalian. Lebih baik aku yang sakit.
Semenjak kejadian
ditaman aku sedikit menghindari Radit, aku takut Radit bertanya
macam-macam lagi. Jadi sebisa mungkin kuhindari suasana berdua dengan
Radit. Kecuali saat ada Shinta, seolah memang tak terjadi apa-apa.
**********
Kau adalah darahku
Kau dalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku, oh sayangku kau begitu sempurna...........
Kunyanyikan lagu kesukaanku saat kusendiri ditaman, lagu ini sangat
berarti karena lgu ini mengingatkanku pada seseorang yang sangat ku
sayang siapa lagi kalau bukan Radit. Aku dan radit sangat kenal betul
dengan lagu ini, karena sangat sering aku memutar lagu ini ketika dunia
maya menjadi jembatan untuk aku berbagi cerita, begitu juga dengan
Radit. Lagu ini adalah lagu kita bersama. Tanpa terasa airmataku
menetes, ada perasaan sedih saat harus aku tau kenyataan bahwa Radit
tidak mengenaliku. Dia masih saja mengira bahwa Shinta lah yang selama
ini bersamanya di tiap malam.
“Ri...aku sudah tau semuanya.”suara Radit tiba-tiba mengagetkanku.
Ternyata Radit sudah dari tadi ada dibelakangku. Aku
bingung apa yang Radit katakan barusan, apa yang dia tau. Atau
jangan-jangan.....tapi tidak mungkin, dari mana dia tau. Shinta ????
batinku mulai bertanya-tanya.
“hei dit, sudah lama kamu disini?”tanyaku agak sedikit gugup
“aku tau ri, aku sudah tau. Lebih baik kamu jujur padaku.”radit mencoba mendesakku
“maksud kamu apa dit, aku ga ngerti deh. Apa yang kamu
tau.”jawabku seolah tidak tau apa-apa. Persaaanku semakin gugup dan
gelisah, aku takut Radit memang sudah mengetahui semuanya. Aku takut
mengecewakan Shinta.
“aku tau bukan Shinta yang ngebales semua e-mailku, bukan
shinta yang selama ini menemaniku. Tapi itu semua kamu ri. Kamu Mentari
az zahra, yang selalu ngebales e-mailku. iya kan ri, jawablah.” Radit
mendesakku.
Aku hanya terdiam, aku tak tau harus berbicara apa.
Ternyata radit sudah tau semua. Tapi dari mana dia tau, bukankah Shinta
sudah tidak berniat lagi untuk menceritakan hal ini.
“dari mana kamu menganggap kalau semua ini aku yang lakukan,.” kataku mencoba menyangkal
“semua bukti udah jelas ri, love story, dunia maya, bakso
kesukaanmu, dan lagu tadi. Apa itu ga cukup jelas buat aku tau
semuanya.” Radit terlihat kecewa.
“maaf dit, bukan maksudku membohongimu, ini semua karena
Shinta. Shinta yang menyuruhku melakukan semua ini. Awalnya aku berniat
untuk menghentikannya, tapi ternyata aku ga bisa, karena aku merasa
nyaman saat aku bisa berbagi denganmu.” jawabku dengan suara parau,
airmataku menetes.”maaf dit, bukan maksudku menghancurkan hubungan
kalian, anggap saja ini semua tak pernah terjadi. Kembalilah pada shinta
seolah memang dia yang selama ini kamu kenal bukan aku.”
“kenapa kamu ga mau jujur dari awal kita ketemu ri, aku kecewa sama kamu dan Shinta.”
“saat itu aku berniat untuk jujur, tapi waktu pertama
kita ketemu kamu sudah lebih dulu mengenali Shinta dengan “princessmu”
itu. Bukan aku yang kamu kenal. Sejak saat itu ku urungkan niatku.”
kutatap wajah Radit sekilas lalu balik berpaling memandang bunga mawar
yang tumbuh indah disamping taman.
“maafkan aku ri, aku ternyata tidak mengenalimu, aku ga
memahamimu saat itu. Tapi ri, sampai kapanpun aku masih nyaman dengan
princessku itu dan itu kamu, bukan Shinta.” Radit menggenggam tanganku,
menatapku tajam.
“maksud kamu..??? bukankah kamu cinta sama Shinta?”tanyaku heran pada Radit
“aku memang suka sama Shinta, tetapi aku sadar bahwa rasa
sukaku dengan shinta hanya sekedar rasa suka semata. Ternyata yang aku
cintai bukan shinta, tapi princess, princess yang selalu menemaniku,
princess dengan love storynya, dan itu kamu. Saat aku bersamamu aku
merasa nyaman, seolah aku sedang berbicara dengan princess. Dan sekarang
aku tau bahwa memang benar apa yang kurasakan, kamu adalah princessku.
Aku mencintaimu ri.” kata Radit
“tapi dit, bagaimana dengan Shinta, mana mungkin aku
harus menghancurkan hati Shinta. aku merasa tidak enak hati apabila
Shinta tau semua ini.”kulepaskan genggaman tangan ku dari tangan Radit
“aku tau ri, tapi aku juga ga mau terus-terusan
membohongi shinta. Jujur selama ini aku kurang nyaman saat bersamanya.
Banyak ketidakcocokan yang aku rasakan. Tidak seperti saat bersamamu.”
terang Radit.
Aku begitu bingung, dilema rasanya. Disatu sisi aku
merasa bahagia karena Radit juga ternyata mencintaiku tapi disisi lain
rasa bersalah kepada shinta bersarang. Bagaimana perasaan shinta saat
dia harus tau semua ini. Apakah harus kurelakan Radit untuk Shinta, atau
kuterima cinta Radit ini. Semua ini terasa ga adil, aku ga mau hanya
karena masalah cinta persahabatan ini hancur.
“terimalah cinta Radit, ri..... jangan kecewakan dia. Aku
tau dia cinta kamu.” suara Shinta tiba-tiba mengagetkan kami berdua.
Ternyata shinta mendengar pembicaraan kami dari belakang.
“maaf Shin, bukan maksudku kaya gini.” kataku meyakinkan Shinta. Kuhapus airmataku dan kujauhi Radit.
“tenang Shin, aku ga kan marah ko sama kamu. Justru aku
bahagia karena akhirnya semua ini bisa terjawab dengan sendirinya. Aku
tak perlu lagi berbicara yang sebenarnya kepada radit. Dan tentang
perasaanku sama Radit, sama halnya seperti Radit ternyata aku hanya
mengagumi Radit. Tapi tak bisa untuk menyelaminya. Kami berdua ga cocok.
Terlalu banyak perbedaan yang ada pada kita, dan sekarang aku relakan
Radit menjadi milikmu karena aku tau kamulah yang terbaik buat Radit.”
Shinta tersenyum dan menghampiriku. Shinta memelukku menyatakkan
kebahagiaannya.
“makasih Shin, aku ga tau harus ngomong apa sama kamu.”
aku merasa bahagia dengan penuturan Shinta, ternyata shinta ga marah.
Dan semuanya jelas sudah.
“Mentari Az Zahra....maukah kamu menjadi pacarku...?”
tiba-tiba radit bersimpuh didepanku dengan memberikan bunga mawar merah.
Dengan hati yang berbunga-bunga serta senyum yang terus mengembang dari bibirku. Ku jawab pertanyaan Radit itu.
“Radit Bagas Pramandha, aku bersedia menjadi pacarmu.” ku
ambil mawar merah yang dipegang Radit sebagai tanda penerimaan.
“terima kasih princess...” Radit langsung memelukku
“sama-sama pangeran.”senyumku berkembang
Shinta yang melihat kami hanya tersenyum dan menggoda kami.
“ehem udah dulu dong berpelukannya, jadi iri neh. Hehehehe,”shinta menggoda kami.
Ternyata persahabatan ini masih terus berjalan, walau
kini aku dan Radit resmi berpacaran tapi hal ini ga mengubah kebersamaan
kami. Aku, Radit dan Shinta pun berpelukan. Kami habiskan waktu malam
ini bertiga, memandang bintang dilangit yang bersinar indah.
Akhirnya love story ini berakhir indah. Sang pangeran
kini telah menemukan princess. Tak ada lagi keraguan di hati sang
pangeran. Dunia ini seakan berbunga-bunga, keindahan menghampiriku
karena cinta yang kupendam kini tlah terpaut sempurna. Dan ternyata
kamu........... I LOVE U RADIT..........................
<p>Your browser does not support iframes.</p>
Mencoba Tinggalkan Bayangmu
Oleh: Fatkuryati
Malam itu adalah malam pergantian tahun, atau yang lebih dikenal dengan
istilah tahun baru,, euforia cantiknya kembang api mulai terasa di
menit-menit pergantian tahun. Tidak banyak yang aku bisa lakukan di
malam itu. Seperti putri di negri dongeng yang terkurung dalam
khayalan-khayalan indah. Untuk ikut bernostalgia di malam tahun baru
bersama teman-teman semasa SMA pun aku tak dapat izin dari sang bunda.
Untuk hal seperti ini mamah selalu punya dua alasan. Alasan pertama, aku
masih selalu di anggap anak kecil.
“nah
lhoooo,,, aku kan udah umur 20 tahun mah, semester 5 lhoo aku, sekitar
dua tahun lagi insyaallah aku lulus kuliah, gumamku dalam hati”.
Alasan kedua, suasana malam di kota sangat tidak baik, pergaulan di sana bahkan tidak pernah mengenal aturan.
“Hmmp,, ya ampuunn ini kan masih kota Serang mah bukan Jakarta,, toh aku
juga bukan keluyuran sendiri yang gg jelas, tapi sama temen-temen yang
sebagian besar udah mamah kenal dengan sangat baik, jawabku pelan”.
“iyah mamah tahu, tapi mamah yakin kamu paham betul makna dari alasan-alasan mamah, jawab mamah dengan bijak”.
Aku tidak bisa mendesak mamah untuk memberikan izin, aku takut mamah
akan sedih bila ada bantahan di tengah perhatiannya, aku tahu semua
kekhawatirannya semata-mata karena ingin melindungi dan menjagaku.
Sepeninggalnya ayah beberapa tahun silam, mamah memang berubah jadi over
protektif, untuk sebuah keselamatan anak-anaknya beliau lebih rela di
hujat banyak orang daripada akan ada apa-apa nanti. Di rumah memang tak
ada lelaki dewasa yang bisa benar-benar melindungiku, kedua kakak priaku
telah menikah dan tinggal bersama keluarga kecilnya masing-masing, di
rumah hanya ada aku, mamah dan kakak wanitaku dengan perbedaan usia 3
tahun. Jadi wajar saja bila mamah merasa memiliki tanggungjawab yang
sangat lebih. jika terjadi apa-apa dengan putrinya, ia akan merasa
sangat berdosa. Oleh karenanya, sebelum hal itu terjadi, beliau lebih
memilih untuk menjagaku dengan caranya.
Di tengan perbincangan itu,, mamah memetikkan ibu jari dan jari tengahnya, pertanda memberikan ide.
“hmmmp,, untuk menghabiskan malam tahun baru, gimana kalo kamu ikut acara mamah” usul mamah.
“Acara apa mah?" tanyaku.
“kamu ikut mamah pengajian di pendopo kantor Bupati, Serang.. gimana??” tanya mamah.
Dengan spontan aku mengangkat sebelah alisku, “hmmp, ya udah deh aku
mau, daripada di rumah, pastinya nanti aku akan benar-benar jadi gadis
di negri dongeng yang merindukan dunia luar,” jawabku dengan ekspresi
seadanya.
“Nahh gitu dooong, ini baru namanya anak mamah,” ucap mamah sambil mencium keningku.
Dalam perjalanan menuju kantor bupati, mataku terasa disuguhkan dengan
pemandangan indah tahun baru. Banyak sekali penjual dadakan yang mencoba
peruntungannya di malam ini,, dengan mencoba berjualan pernak-pernik
dan makanan khas tahun baru. Para penjual terompet, petasan, kembang
api, dan balon berjejer menawarkan barang dagangannya. Bahkan karena
maraknya penjual, para konsumen terlihat dibuat bingung untuk
membelinya. Asap jagung bakar pun seolah menggoda para penikmat tahun
baru untuk sekedar mencicipinya. Dan yang tak kalah menarik,, ada pasar
malam di Alun-alun kota Serang, terlihat sesak, orang-orang mencoba
menghibur dirinya dengan sekedar berbelanja, menikmati wahana permainan
atau makan bersama dengan sang kekasih hati. “Oohh tidak, sepertinya
malam ini memang tak ada pangeran menjemputkuku, huufftt jadi merasa
sedikit cemburu dengan mereka, ucapku lirih sambil memonyongkan bibir”.
“tapi aku tetap bersyukur masih diberi kesempatan untuk bisa melihat
pemandangan seelok ini,, semoga nikmat sehat-Mu yang tak terkira
banyaknya ini, selalu menjadikanku untuk tetap bersyukur, ucapku dalam
hati dengan mimik takjub”.
Dan ternyata di pendopo kantor bupati pun tak kalah sesak,, para jamaah
berlomba-lomba untuk menempati posisi terdepan, katanya akan ada
penyanyi lokal Banten yang pernah melanglang buana di stasiun TV swasta,
presenter yang cukup terkenal di acara dakwah, juga ustadz yang cukup
membumi di Banten dan hiburan lainnya yang tak kalah menarik.
Anehnya,, di tengah acara ini berlangsung,, tiba-tiba aku teringat
sebagian kenangan masa laluku.. Aku seperti orang dengan raga yang
tertinggal di pendopo, sementara pikiran dan nyawaku berkunjung
menjelajah kembali ke masa lalu.
Dia,, pria itu... pria yang baru 2 tahun lalu ku kenal. Tampan, baik dan
dewasa,, Ia adalah mantan kekasihku. 100 hari bersama,, ternyata cukup
untuk membuatnya berkarat dalam ingatanku . Aku tak pernah tahu, kenapa
hingga kini ia masih cukup berarti untuk hidupku. Kami sama-sama
mengakui bahwa kami masih saling merindukan satu sama lain. Ketemu,
jalan dan makan bareng adalah hal yang biasa kami lakukan untuk sekedar
mengobati rindu itu.
Kadang ia masih suka mengirimiku pesan singkat yang manis,, hingga aku
merasa aku adalah wanita terbahagia di dunia. Ini adalah salah satu
pesan singkatnya.
“tak apa, kalau kamu masih malu untuk bilang sayang kembali, tapi yang penting hatimu masih tersimpan indah dalam hatiku”
Heiii pria yang menjadi mantan kekasihku,, tahukah kamu,, aku malah
seperti wanita gila ketika membaca pesan singkatmu itu, loncat-loncat
bahagia layaknya anak kecil yang mendapatkan hadiah balon, dan
senyum-senyum sendiri seperti penghuni RSJ yang melarikan diri. Dan
tahukah kamu,, Itu adalah pertanda bahagianya aku ketika ku tahu kau
masih memiliki rasa yang sama.
Jujur,,, hingga kini aku masih menyayangimu, aku tak pernah mampu untuk
menggantikan namamu dengan nama yang lain. Bahkan aku lebih memilih
untuk menolak cinta 5 pria lain, daripada menghapus namamu. Aku tahu 5
pria itu kecewa karenaku, tapi aku tak dapat membohongi perasaanku bahwa
kamu masih cukup berarti untuk hidupku.
Jika kamu izinkan,, rasanya aku ingin kembali menjadi satu-satunya
wanitamu.. malam ini aku bukan seperti jamaah yang khusu mendengarkan
tausiyah di tempat pengajian.. tapi aku seperti menjadi tokoh utama di
sinetron Lorong Waktu, acara ramadhan semasa aku SMP. Di lorong waktu
ini aku seolah dikirimkanku ke cerita cinta masa lalu.. Ya benar kamu
memang masa laluku,, tapi aku ingin kamu menjadi teman masa depanku,,
bersama dalam sisa hidupku sampai Tuhan akan memanggil kita nanti.
Aku cukup bahagia dengan semua itu,, tapi entah aku merasa kini kamu
berbeda.. kamu tak lagi bersikap semanis beberapa waktu yang lalu.. Tak
ada lagi kata rayuan,, tak ada lagi kalimat gombalan dan tak ada lagi
ucapan manis bahwa kamu masih menyayangiku sebagai mantan kekasihmu.
Pikiranku terbang hingga ke awang mencoba menerka apa yang sedang
terjadi denganmu,, banyak terkaan yang bisa menggalaui hatiku malam
itu.. Dari mulai, sepertinya kamu sedang menyukai wanita lain,, mencoba
menjadikanku hanya cinta masa lalu,, kamu tidak lagi menyayangiku,, dan
yang paling bisa buatku sedikit tenang adalah semoga kamu memang hanya
sedang sibuk menyelesaikan tugas akhirmu (skripsi), bukan karena kau
terjebak cinta dengan wanita lain.
Entahlah,, euforia tahun baru itu tak lantas mebuat hatiku riang.. Ada
kegalauan yang buatku merasa tak nyaman,, di tengah ramainya pendopo
Serang,, aku malah berpikir untuk mengirimimu puisi ungkapan hati via
sms,, Ini adalah puisi yang ku kirimkan di tengah kegalauan yang
menghimpit hatiku,, sebenarnya dengan puisi ini aku mengharapkan kamu
membalasnya dengan kata yang sama indahnya dan tentunya bisa buat hatiku
tak segalau ini.
Aku tak pernah tahu
Aku tak pernah tahu,,
Kenapa hingga kini kau masih cukup berarti untuk hidupku
Ada rasa yang berbeda ketika ku mengingatmu
Tak sama dengan ketika ku mengingat yang lain
Aku bahkan tak pernah tahu,,
kenapa Tuhan s’lalu hadirkan bayangmu di pikiranku
Aku tak pernah sekalipun berusaha tuk mengingatmu,,
Tapi sepertinya Tuhan tahu bahwa kau masih dihatiku
Rasa ini tak ubahnya rembulan yang selalu nampak bersinar,,
Indah,, dan mempesona..
Aku tak pernah mampu tuk meninggalkanmu jauh dari pikiranku,,
Sepertinya aku mulai mencintaimu kembali..
Percayalah,,
Aku mencintaimu dengan hati
Dengan hati yang tak bisa ku sematkan pada lelaki selainmu
Dan aku menyayangimu dengan nada
Dengan nada yang tak bisa ku harmonikan pada yang lain,,,
Pernah kucoba tuk lupakanmu,,
Melempar bayangmu hingga langit ke tujuh,,
Tapi nyatanya,, aku tak pernah mampu untuk tak mengingatmu..
Entah,,
Sepertinya kau masih berkarat untuk hatiku..
Ting-ting-ting (tanda pesan masuk),, itu pertanda bahwa sms yang ku kirim telah sampai ke ponselnya dan mungkin sedang dibaca.
“Allhamdulillah puisiku telah sampai ke ponselnya,, semoga akan ada
balasan yang nantinya tak membuat ku kecewa,, ucapku dalam hati”.
Bermenit-menit ku tunggu,, dan sekarang menit tak lagi sebagai menit,, aku menunggunya hingga berjam-jam.
“huuuuffffttthh,,, sepertinya memang benar aku tak lagi berarti buatmu,,
mungkin memang kamu sedang terjebak dengan cinta yang lain,, ucapku
lirih mencoba menerima kenyataan”.
Aku berusaha menguatkan diriku sendiri atas rasa kecewa yang kini tak lagi klise.
”yahhhh,,, sepertinya aku memang harus benar-benar melupakanmu,,
melempar bayangnya jauh-jauh hingga langit ke tujuh,, ucapku lirih
seolah tertusuk sembilu”.
Aku memang tak tahu,, adam dari sisi mana yang akan Tuhan pilihkan untukku..
Seperti apa,, dan bagaimana ia,, tak ada yang tahu untuk masa depan..
Mungkin benar kau memang hanya ada di masa laluku.. Jika memang Tuhan
tak takdirkan kita bersama, setidaknya aku pernah melewati 100 hari
bahagia bersamamu dan jika Tuhan akan menghapusmu dari ingatanku,, itu
karena Tuhan akan menggantikanmu dengan adam yang lebih baik..
Ikrarku,, akan ku coba tuk tinggalkanmu dalam masa laluku, tak banyak yang bisa ku lakukan.
Tapi pastilah akan ku coba,, seindah apapun dulu kamu dimataku semoga kamu juga akan nampak indah dimata wanita selainku.
Ku akui,, salah itu memang ada padaku,, kalau saja aku tak pernah
melakukan hal bodoh yang mungkin melukai perasaanmu, mungkin hingga kini
kita masih berdua,, berdua membangun istana cinta di hati kita.. Tapi
biarkanlah,, biarkan itu hanya menjadi kenangan di masa lalu..
Jujur,, hingga kini sayang itu memang masih ada untukmu,, tapi akan ku
coba relakan rasa itu pupus bersama sang waktu.. Aku yakin,, Tuhan t’lah
miliki rencana yang indah untukku,, dan barangkali untukmu....
Lagi-lagi aku harus katakan ini pada cinta yang tak lagi bersahabat,,
“AKU AKAN MENCOBA UNTUK MENINGGALKANMU DALAM MASA LALUKU”...
Aku teramat yakin bahwa Tuhan tidak akan mengambil sesuatupun dari
makhluknya, kecuali Dia akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih
baik..
*****
Read more:
http://cerpen.gen22.net/2012/01/cerpen-cinta-mencoba-tinggalkan.html#ixzz2DoJj7tay
MENANTI DIRIMU
Cinta adalah ketika kamu menitikkan air mata, tetapi kau masih
peduli kepadanya. Ketika dia meninggalkanmu kau masih setia
menunggunya.
Sudah 6 tahun kujalani hari-hariku bersama dia. Suka, duka, canda tawa
dan tangis aku slalu bersamanya. Harris adalah sosok yang sangat
berharga bagiku dan tak bisa tergantikan. Dia slalu menjaga, mencintai
dan menyanyangiku sepenuh hati dan slalu menemaniku dengan senyuman
manisnya itu. Dia slalu ada untukku, kapanpun dan dimanapun aku berada.
Harris adalah sosok yang ulet, rajin dan cerdas. Tidak heran dia
mendapatkan beasiswa di luar negeri. Harris memilih Amerika Serikat
sebagai tempat untuk melanjutkan studinya. Mau tidak mau Harris akan
meninggalkan aku sendiri dengan cinta kita berdua. Aku tidak bisa
sesering lagi melihat senyumannya yang biasa menghiasi setiap waktuku.
Hari ini adalah waktu keberangkatan Harris. Disinilah keutuhan dan
kekuatan cinta kami di uji. Waktu dan jarak akan menjadi saksi. Di
dalam taksi aku mengantarkan Harris ke bandara. Aku hanya terdiam
membisu. Perasaan sedih dan takut menghantuiku. Selama ini aku tak
pernah jauh sama dia namun aku harus di pisahkan oleh ruang dan waktu.
Detik-detik perpisahan sudah semakin dekat. Aku tak dapat membendung
air mataku dan perasaanku menjadi tidak menentu. Aku yakin Harris juga
merasakan hal yang sama. Dengan kehangatannya dia
menenangkan,menguatkanku agar dapat menerima semua kenyataan ini. Dan
juga dia menyakinkanku bahwa jarak dan waktu bukanlah masalah,
melainkan kesetian cinta diantara kami berdua yang harus tetap kokoh
dan kuat.
“Berjanjilah untukku bahwa kau akan setia menjaga cinta
kita ini.”Ucap Harris sambil mengusap air mataku yang sejak perjalanan
tadi tidak berhenti.
“Aku janji, dan aku akan setia menunggumu.”Ucapku
singkat sambil memeluknya. Dan tangisku pecah. Semua terasa berat,
seakan ini tak adil bagi kami berdua. Di belainya rambutku seraya agar
aku tetap tenang dan tegar.
Ia pun menggenggam kedua tanganku dan menatapku dan berkata :
“Aku janji akan menjaga semua ini, dan aku akan kembali
seperti sekarang ini dan membawa kembali cinta kita berdua.”Kata Harris
padaku.
Sejenak kami berdua diam, membiarkan hati kami berbicara. Perlahan aku
mulai melepaskan genggamannya dan dikecupnya keningku dengan penuh
cinta olehnya.
“I Love you”,” I love you too”. Kata singkat yang hanya
dapat mewakili semua perasaan kami berdua. Dia pun melangkah dan mulai
meninggalkanku.
Sepanjang perjalanan pulang aku hanya diam membisu dan sesekali air mataku berlinang.
********************<<<<<<>>>>>>***********************
Waktu bergulir dengan cepatnya. Tak terasa sudah 1 tahun 5 bulan,
hubungan kami berjalan dengan baik tanpa ada rintangan. Hanya saja
perasaan rindu yang slalu menyiksa hati ini. Tapi tidak sama halnya
dengan Harris tak tahu mengapa suatu hari ia menyuruhku untuk
melupakannya dan mencari penggantinya.
Sebenarnya tak ada masalah diantara kami berdua. Ia menyuruhku mencari
penggantinya karena takut kalau aku kesepian dan ternyata ia telah
membagi cintanya dengan teman kuliahnya di Negeri Paman Sam itu.
“Ra, maafin aku telah membagi cintaku kepada orang lain
dan tolong lupakan aku karena aku telah mengkhianatimu.”Ucap Harris di
telfon.
Aku tak dapat berkata, hati sakit teriris oleh luka yang ia beri
padaku. Harris yang aku kenal dulu kini telah berubah. Harris dulu
sangat sayang dan slalu menjagaku tidak pernah membuat hatiku sakit,
kini ia telah berbeda. Sekarang aku berdiri tanpa pegangan dan aku
bersandar tanpa sandaran.
Waktu terus berlalu, tidak ada sama sekali kabar dari Harris. Semenjak
pernyataan itu ia tidak mau lagi mendengarkan kata-kataku lagi dan tak
pernah lagi ia menjawab sms, e-mail bahkan pesan di facebook. Aku
merasa sangat sedih dan kecewa. Aku sama sekali tidak bisa melupakannya
dari kehidupanku. Dan aku meninggalkan pesan terakhir di e-mailnya :
“ Ris, cintaku padamu tidak akan pernah berubah dan aku
akan setia menunggumu sampai saat ini dan jika nanti memang kau bukan
milikku baru aku akan rela melepaskanmu untuk bahagiamu.
Setelah itu kuputuskan untuk tidak mengganggunya dan menghubungi dia
lagi walau ada rasa kerinduaan di hati ini. Aku sibukkan diriku agar
dapat sejenak melupakan Harris. Banyak teman cowokku yang mendekatiku
namun sosok Harris sulit digantikan oleh orang lain.
Waktu terus berputar tanpa ku sadari sudah 3 tahun aku telah berpisah
dengannya. Aku gelisah ingin sekali ku mendengar suaranya, melihat
senyuman dan mengetahui kabar beritanya. Kapan dia akan kembali
kepadaku dan apa ia masih berhubungan dengan gadis itu ? Entahlah aku
tak dapat berbuat banyak, yang hanya dapat ku lakukan hanyalah setia
menunggunya.
Dan suatu hari tiba-tiba….
“Drreettt…..drrreettt….”Hpku bordering tanda sms masuk.
Kubuka perlahan membuka pesan itu dan ternyata itu sms dari Harris.
Ingin rasanya ku menangis dan kubaca ulang pesan itu baik-baik untuk
menyakinkan. Aku merasa seperti bermimpi.
“Ra….. Apa kabar..”sms singkat Harris.
Rasanya ku ingin berteriak pada dunia agar dunia tahu aku sangat bahagia. Dan cepat ku membalas sms itu.
“Ris… aku baik-baik ajha. Kamu bagaimana ? Kapan pulang ?
Aku kangen banget sama kamu. Aku akan tetap menunggumu sampai kamu
pulang.
Ku tunggu balasan darinya, namun ia tak membalas. Aku kian gelisah dan air mata selalu mengurai semua perasaan yang kurasakan.
Hingga suatu hari ku memberanikan diri untuk menelfonnya. Aku sudah bertekad untuk mendapat semua penjelasan darinya.
“Ris..” Hanya kata itu yang terucap dari bibirku.
“Ra, maafin aku, karena aku sudah mengkhiatimu dan
menghancurkan cinta kita berdua. Maafin aku.”Ucap Harris padaku.
Kata-kata itu membuatku terharu dan meneteskan air mata. Hingga ku tidak bisa berkata-kata.
“Dan satu hal lagi sayang… aku sudah tidak bersama gadis
yang aku pilih itu. Dia malah balik mengkhianatiku dan pergi bersama
laki-laki lain. Jadi, sekarang aku baru merasakan hal yang sama waktu
aku memutuskanmu dulu. Maafin aku, mungkin ini sudah terlambat.”
Ujarnya.
“Ris.. aku masih seperti dulu yang masih setia menunggumu dan tidak ada yang bisa menggantikanmu.”Kataku.
Sejak saat itu kuputuskan untuk menjalin lagi hubungan cinta bersamanya
yang dulu pernah kandas di tengah jalan. Dan dia berjanji tidak akan
meninggalkanku lagi. Aku sangat senang dan merasa bahagia. Tinggal 3
bulan lagi kedatangan Harris dan kami berdua akan melangsungkan
pernikahan.
Akhirnya penantianku berbuah manis. Pernikahan ? menikah dengan orang yang kucintai. Rasanya seperti mimpi.
Hari ini adalah hari kepulangan Harris dari Amerika Serikat. Aku dan
kedua orang tua serta adik Harris menuju bandara untuk menyambut
kedatangan Harris. Sebelum berangkat Harris sempat smsan sama aku.
“Yank… aku senang akhirnya aku bisa pulang dan bisa
melihatmu lagi jika di beri kesempatan, aku cinta kamu.”Ucap Harris
menutup hpnya karena pesawat akan lepas landas.
Perasaan gembira menjadi duka dimana saat petugas bandara
memberitahukan pesawat penerbangan AS-INA dinyatakan hilang. Teriak
tangis memenuhi ruang tunggu.
Aku sontak kaget karena itu adalah pesawat yang ditumpangi Harris. Aku
tak dapat membendung air mataku, badanku lemas bagai di sambar petir
dan aku tak sadarkan diri.
Saat ku siuman ternyata aku sudah ada di rumah sakit. Aku hanya dapat meratapi kejadian ini
“Ya Tuhan, mengapa kau buat aku begini ? Dan mengapa
kau ambil dia dari sisiku ? Kenapa bukan aku saja ?”Ucapku sambil
menangis.
Ibu dan adik Harris memelukku agar aku bisa tenang dan tabah menerima semua ini.
Sudah 1 minggu bangkai pesawat yang ditumpangi belum ditemukan sampai
sekarang. Hal itu membuatku tidak mampu menghadapi semua ini serasa aku
ingin mengakhiri hidup ini. Apa aku bias hidup tanpamu ? Tak pernah
terfikir olehku kau akan pergi tinggalkan ku sendiri. Semua tinggal
kenangan yang hanya bisa ku kenang.
Aku berharap mudah-mudahan kau tenang di sana.
“Selamat Jalan Kasihku Harris, aku yakin kau bahagia di sana.”